IDNVoice.com - Di tengah ancaman perubahan iklim dan potensi krisis pangan, masyarakat adat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, terus membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menjadi benteng ketahanan pangan. Tradisi menyimpan hasil panen padi huma di lumbung adat atau leuit telah diwariskan turun-temurun dan hingga kini menjadi jaminan ketersediaan pangan bagi seluruh warga.
Tetua Adat Badui yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Jaro Oom, memastikan stok pangan masyarakat tetap aman meski memasuki musim kemarau.
"Sampai saat ini ketersediaan pangan masyarakat Badui aman," kata Tetua Adat yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Jaro Oom dikutip dari Antara pada Jumat, 3 Juli 2026.
Menurut Jaro Oom, masyarakat Badui memiliki ribuan lumbung atau leuit yang digunakan untuk menyimpan gabah hasil panen padi huma. Setiap kali panen yang dilakukan setahun sekali, hasil panen tidak langsung dikonsumsi atau dijual, melainkan disimpan sebagai cadangan pangan keluarga.
Tradisi tersebut menjadi langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang, bencana alam, maupun serangan hama yang berpotensi mengganggu produksi pertanian.
"Karena itu, masyarakat Badui hingga kini belum pernah mengalami kerawanan pangan maupun kelaparan," kata Jaro Oom.
Ia menjelaskan, sistem penyimpanan pangan yang diwariskan leluhur telah menciptakan kedaulatan pangan yang berkelanjutan bagi masyarakat Badui.
Diperkirakan terdapat sekitar 8.000 lumbung leuit yang dimiliki oleh sekitar 4.000 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 13.309 jiwa. Jika setiap lumbung rata-rata menyimpan tiga ton gabah, maka total cadangan pangan masyarakat Badui diperkirakan mencapai sekitar 24 ribu ton gabah.
"Kami meyakini stok pangan yang ada di lumbung itu bisa terjaga untuk pertahanan pangan keluarga," katanya.
Salah seorang warga Badui, Santa (55), mengaku hingga kini masih menyimpan sekitar tujuh ton gabah hasil panen padi huma selama enam tahun terakhir di lumbung miliknya.
Meski memiliki cadangan pangan yang melimpah, gabah tersebut belum digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.
"Kami sampai hari ini kebutuhan konsumsi berasnya dengan cara membeli juga ada bantuan pangan dari Bulog, sehingga gabah hasil panen yang disimpan di lumbung atau leuit belum pernah digunakan," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengapresiasi konsistensi masyarakat Badui dalam menjaga tradisi penyimpanan hasil panen sebagai bentuk ketahanan pangan.
Menurutnya, hingga saat ini kondisi cadangan pangan masyarakat Badui masih relatif aman karena setiap keluarga tetap mempertahankan kebiasaan menyimpan gabah di lumbung dengan rata-rata mencapai tiga ton per leuit.
"Kami mengapresiasi masyarakat Badui hingga kini ketahanan pangan terjaga dan setiap panen padi tidak dijual," kata Rahmat Yuniar.
Tradisi leuit yang terus dipertahankan masyarakat Badui menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal mampu menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan. Di saat banyak daerah menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian produksi pertanian, masyarakat Badui tetap mampu menjaga ketersediaan pangan keluarga melalui budaya menyimpan hasil panen yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. [DR]