IDNVoice.com – Pemerintah Malaysia meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai ancaman global, mulai dari serangan siber, ketegangan geopolitik hingga aktivitas badan intelijen asing. Sejumlah lembaga strategis negara itu dijadwalkan menggelar pertemuan khusus pada Selasa (3/11) untuk mengevaluasi risiko dan memperkuat kesiapsiagaan nasional.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan, Sekretaris Utama Pemerintah dan Gubernur Bank Sentral akan mengadakan pertemuan terpisah dengan berbagai departemen serta lembaga keuangan. Langkah tersebut dilakukan untuk menilai potensi ancaman yang dapat memengaruhi keamanan dan stabilitas ekonomi Malaysia.
Kewaspadaan ini meningkat di tengah laporan serangan siber yang menghantam infrastruktur digital di sejumlah negara Eropa dan dunia Barat, termasuk sistem administrasi pemerintahan. Sebelumnya, Uni Eropa (UE), Kanada, dan Jepang juga mengeluarkan arahan serta imbauan kepada warganya untuk menyiapkan persediaan kebutuhan pokok sebagai langkah antisipasi.
"Kami terus memantau perkembangan lain," ujar Anwar dalam pidatonya di hadapan parlemen dikutip dari Reuters pada Selasa, 3 November 2026.
Ia menyebut sejumlah perkembangan internasional yang menjadi perhatian Malaysia, termasuk ketegangan di Timur Tengah, situasi di Yaman dan Laut Merah, serta ancaman keamanan di Eropa.
"Hal ini mencakup ketegangan di Timur Tengah, situasi di Yaman dan Laut Merah, serta ancaman keamanan yang terjadi di Eropa. Semua ini menunjukkan bahwa krisis di luar negeri dapat berdampak pada keselamatan rakyat kita, stabilitas ekonomi, dan kepentingan nasional kita," katanya.
Selain pertemuan tersebut, Anwar mengungkapkan bahwa Dewan Keamanan Nasional (MKN) Malaysia telah menggelar rapat pada Senin, 2 November 2026. Pertemuan itu membahas mekanisme penanganan serta koordinasi antarkementerian, lembaga pemerintah, dan aparat keamanan dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Menurut Anwar, langkah tersebut merupakan bagian dari peningkatan kesiapsiagaan nasional terhadap ancaman, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
Sorotan juga mengarah pada aktivitas badan intelijen asing di negara-negara sekitar Malaysia. Anwar secara khusus menyinggung keberadaan badan intelijen Israel yang disebut beroperasi di negara tetangga, termasuk aktivitas kelompok atau entitas Israel di Phuket dan wilayah selatan Thailand.
"Badan intelijen kami memandang hal ini sebagai potensi ancaman bagi negara," katanya.
Anwar menjelaskan, Malaysia juga berpotensi menjadi sasaran ancaman karena memiliki kemampuan digital dan infrastruktur pusat data yang berkembang pesat. Selain itu, sikap Malaysia dalam sejumlah isu internasional, khususnya Palestina dan Gaza, dinilai kontroversial oleh beberapa negara.
Pemerintah pun tidak ingin menganggap ancaman tersebut sebagai persoalan yang jauh dari jangkauan keamanan nasional Malaysia.
Untuk memperjelas situasi keamanan, Direktur Jenderal Dewan Keamanan Nasional dijadwalkan memberikan pengarahan khusus secara tertutup kepada seluruh anggota parlemen dalam satu hingga dua hari ke depan.
"Direktur Jenderal Dewan Keamanan Nasional akan memberikan pengarahan khusus secara tertutup kepada seluruh anggota parlemen dalam satu hingga dua hari ke depan," tambahnya.
Di tengah meningkatnya kewaspadaan global, laporan Newsweek juga menyoroti langkah 33 negara yang telah mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan kebutuhan darurat, mulai dari makanan, air bersih hingga obat-obatan.
Imbauan tersebut berkaitan dengan berbagai potensi krisis, seperti konflik bersenjata, cuaca ekstrem, bencana, dan ancaman keamanan siber.
Durasi persediaan yang dianjurkan berbeda-beda di setiap negara. Sebagian pemerintah meminta warganya menyiapkan kebutuhan untuk sedikitnya tiga hari, sementara negara lainnya menyarankan persediaan hingga tujuh hari bahkan 10 hari.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat agar tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar ketika terjadi gangguan terhadap layanan publik, distribusi logistik, maupun infrastruktur penting.
Situasi ini memperlihatkan bahwa ancaman keamanan modern tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, infrastruktur digital, dan kesiapan masyarakat menghadapi keadaan darurat. [DR]