Karhutla Masih Membara, 3.392 Hektare Lahan di Kalimantan Belum Padam

Selasa, 27 Oktober 2026 11:42 WIB
Seorang relawan memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan ranting pohon di Palangka Raya, Kalimantan Tengah pada Kamis, 22 Oktober 2026. (IDNVoice/AFP Photo)
Seorang relawan memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan ranting pohon di Palangka Raya, Kalimantan Tengah pada Kamis, 22 Oktober 2026. (IDNVoice/AFP Photo)

IDNVoice.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 3.392 hektare lahan dan hutan di tiga provinsi Kalimantan masih dalam proses pemadaman, dengan Kalimantan Tengah menjadi wilayah terdampak paling luas.

Berdasarkan data BNPB, luas lahan yang masih dalam proses pemadaman di Kalimantan Tengah mencapai 2.458 hektare. Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat 884 hektare dan Kalimantan Selatan 52 hektare. Pemerintah pusat dan daerah terus mengupayakan penanganan dengan melibatkan relawan serta berbagai strategi, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC).

"Berbagai strategi penanganan terus diupayakan pemerintah pusat dan daerah yang dibantu para relawan, di antaranya operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan dry ice," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, melalui keterangan resminya pada Senin, 26 Oktober 2026.

Di Pulau Sumatera, BNPB mencatat sekitar 990 hektare lahan terdampak karhutla di tiga provinsi. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan area terdampak terluas, yakni 889 hektare, disusul Jambi 89 hektare dan Lampung di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sekitar 12 hektare. Sementara itu, wilayah Riau tidak terpantau mengalami pemadaman karhutla.

Untuk mempercepat penanganan, pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara. Sebanyak 57.050 personel darat disiagakan di enam provinsi, terdiri atas 16.387 personel di Kalimantan Tengah, 14.458 personel di Kalimantan Barat, 12.285 personel di Sumatera Selatan, 7.927 personel di Kalimantan Selatan, 5.984 personel di Jambi, dan sembilan personel di Lampung.

"Pemadaman didukung berbagai peralatan, antara lain selang pemadam, selang hisap, nozel, sepatu bot, pompa portabel, pompa punggung, pemukul api, dan radio komunikasi," ucap Berton.

Dukungan pemadaman udara melibatkan 61 unit armada, terdiri atas 24 unit untuk patroli, CASA, dan operasi modifikasi cuaca serta 37 helikopter water bombing atau pengeboman air.

BNPB juga mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca untuk membantu penanganan karhutla. Berdasarkan data pelaksanaan pada 23 Oktober 2026, penyemaian dilakukan sebanyak 15 sortie atau penerbangan dengan total penggunaan bahan semai mencapai 14.300 kilogram.

Di Kalimantan Tengah, OMC dilaksanakan sebanyak delapan sortie dengan penggunaan 7.200 kilogram bahan semai. Jumlah tersebut terdiri atas 5.200 kilogram dry ice dan 2.000 kilogram natrium klorida (NaCl). Namun, hingga laporan pada 23 Oktober, belum terdapat laporan hujan di wilayah sasaran.

Sementara itu, di Sumatera Selatan, OMC dilakukan sebanyak tujuh sortie dengan penggunaan 7.100 kilogram bahan semai.

"Hasil pemantauan menunjukkan jarak pandang membaik menjelang siang hari," katanya.

Di Kalimantan Barat, wilayah sasaran OMC meliputi Sekadau, Ketapang, dan Sintang. Pada 23 Oktober, hujan ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di tujuh kabupaten, termasuk tiga wilayah sasaran. Adapun di Kalimantan Selatan, hujan dilaporkan terjadi di Kabupaten Kotabaru pada tanggal yang sama.

Pelaksanaan OMC disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah. Upaya ini menjadi bagian dari dukungan penanganan karhutla bersama operasi pemadaman darat dan udara.

Penanganan karhutla juga terus dilakukan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Di kawasan tersebut, tercatat 34 titik dengan sekitar 16 hektare lahan yang belum padam.

Petugas memanfaatkan drone termal dan pos pantau darat untuk mendeteksi bara tersembunyi, terutama di lahan gambut. Selain itu, penggunaan pompa jinjing dan instalasi selang air hingga hampir tiga kilometer dilakukan untuk mendukung penyaluran air ke titik-titik api kritis.

Di Pulau Jawa, kebakaran juga masih terjadi di kawasan Arjuno-Welirang, Jawa Timur. Penanganan dilakukan melalui koordinasi antarpihak dan penyisiran wilayah terdampak.

Pemantauan serta penentuan prioritas pemadaman terus diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan api dan mengurangi risiko penjalaran kebakaran ke wilayah lain. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid