Api Kebakaran Gambut Bisa Menjalar di Bawah Tanah, Ini Bahaya dan Cara Mencegahnya

Sabtu, 17 Oktober 2026 13:23 WIB
Warga memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Rawasari, Tanjung Jabung Timur, Jambi pada Rabu, 26 Agustus 2026. (IDNVoice/Antara Foto)
Warga memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Rawasari, Tanjung Jabung Timur, Jambi pada Rabu, 26 Agustus 2026. (IDNVoice/Antara Foto)

IDNVoice.com – Kebakaran lahan gambut menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat, terutama saat musim kemarau berkepanjangan. Berbeda dengan kebakaran di lahan mineral, api di kawasan gambut dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga sulit dideteksi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.

Lahan gambut merupakan ekosistem penting yang berfungsi menyimpan karbon, menjaga tata air, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Namun, ketika mengalami kekeringan, ekosistem ini menjadi sangat rentan terbakar dan berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dalam skala luas.

Gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan tidak sempurna selama ratusan hingga ribuan tahun dalam kondisi basah. Material organik tersebut terus menumpuk hingga membentuk lapisan tanah yang ketebalannya dapat mencapai beberapa meter.

Berbeda dengan tanah mineral pada umumnya, gambut mengandung banyak bahan organik yang dapat menjadi bahan bakar ketika kehilangan kelembapan. Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut memiliki karakteristik tersendiri dan lebih sulit ditangani.

Salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kebakaran gambut adalah perubahan kondisi lahan dari basah menjadi kering. Penurunan permukaan air akibat kemarau berkepanjangan maupun drainase yang berlebihan dapat menyebabkan lapisan gambut kehilangan kelembapan dan mudah terbakar.

Dalam kondisi tersebut, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat menjalar ke lapisan gambut di bawah tanah. Kebakaran bawah permukaan ini kerap sulit diketahui karena api bergerak melalui material organik tanpa selalu menimbulkan kobaran yang terlihat jelas.

Akibatnya, proses pemadaman menjadi lebih rumit dan membutuhkan waktu lebih lama. Bahkan, api yang tampak telah padam di permukaan masih berpotensi bertahan di bawah tanah dan kembali muncul ketika kondisi lingkungan mendukung terjadinya pembakaran.

Selain faktor cuaca, aktivitas manusia juga menjadi salah satu pemicu kebakaran lahan gambut. Pembukaan lahan dengan cara membakar, puntung rokok yang dibuang sembarangan, serta sumber api lainnya di kawasan kering dapat memicu kebakaran yang meluas.

Dampak kebakaran gambut tidak hanya berupa kerusakan vegetasi dan hilangnya habitat satwa. Asap yang dihasilkan juga dapat menurunkan kualitas udara dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Paparan asap kebakaran berpotensi menyebabkan iritasi mata, batuk, gangguan pernapasan, hingga memperburuk kondisi kesehatan orang yang telah memiliki penyakit pernapasan. Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya perlu mendapat perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran.

Dari sisi lingkungan, kebakaran gambut turut melepaskan karbon yang selama ini tersimpan di dalam tanah ke atmosfer. Pelepasan karbon tersebut menambah emisi gas rumah kaca dan berpotensi memperburuk perubahan iklim.

Kerusakan lapisan gambut juga mengganggu fungsi hidrologis ekosistem. Gambut yang mengering semakin rentan terbakar, sedangkan kebakaran dapat merusak struktur tanah dan mengurangi kemampuan ekosistem dalam menyimpan air.

Kondisi ini menciptakan risiko berulang: lahan yang mengering lebih mudah terbakar, sementara kebakaran semakin memperburuk kondisi ekosistem yang telah rusak.

Pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran lahan gambut. Salah satu upaya utama adalah menjaga gambut tetap basah melalui pengelolaan tata air yang tepat, termasuk mencegah pengeringan berlebihan akibat kanal drainase.

Masyarakat juga diimbau menghindari pembakaran untuk membuka lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan keberadaan titik api atau asap mencurigakan kepada petugas setempat.

Pemantauan kondisi lahan selama musim kemarau perlu ditingkatkan, khususnya di kawasan yang memiliki riwayat kebakaran. Pemerintah, pengelola lahan, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam pengawasan, edukasi, serta penanganan dini untuk mencegah api meluas.

Jika menemukan kebakaran, masyarakat sebaiknya tidak mencoba memadamkan api gambut yang telah meluas tanpa peralatan dan pelatihan memadai. Segera laporkan kejadian tersebut kepada petugas pemadam kebakaran atau instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan secara tepat dan aman.

Lahan gambut bukan sekadar tanah yang mudah terbakar, melainkan ekosistem yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan. Menjaga kelembapan gambut dan mencegah sumber api menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko kebakaran, melindungi kesehatan masyarakat, dan mempertahankan keseimbangan lingkungan. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid