Pemerintah Uji Cairan Pemadam dari Brasil untuk Atasi Karhutla di Sumatera Selatan

Senin, 12 Oktober 2026 11:45 WIB
Menko Polkam Dudung Abudrachman ditemui usai pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Minggu, 11 Oktober 2026. (IDNVoice/DK-Istimewa)
Menko Polkam Dudung Abudrachman ditemui usai pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Minggu, 11 Oktober 2026. (IDNVoice/DK-Istimewa)

IDNVoice.com – Pemerintah mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia dengan mengoptimalkan operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menguji coba cairan pemadam kebakaran asal Brasil di Sumatera Selatan dan Kalimantan.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman mengatakan, cairan pemadam tersebut menjadi salah satu alternatif untuk mempercepat pemadaman api yang masih membakar sejumlah wilayah.

“Kebetulan ada bantuan dari Brasil berupa cairan yang disemprotkan dan dapat mengendap untuk mematikan api. Cairan ini sudah kami uji coba di Sumatera Selatan dan Kalimantan. Mudah-mudahan upaya ini terus berlanjut sehingga kebakaran segera bisa dipadamkan,” kata Dudung setelah pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Dudung mengatakan, pemerintah akan terus mengoptimalkan berbagai metode pemadaman sesuai kondisi di lapangan. Dalam waktu dekat, ia juga berencana meninjau sejumlah wilayah terdampak karhutla, termasuk Sumatera Selatan, untuk melihat langsung perkembangan penanganan kebakaran.

Pemadaman akan dilakukan melalui operasi udara menggunakan helikopter serta penanganan langsung oleh personel di lokasi kebakaran.

“Via udara, melalui heli tetap. Termasuk manual juga melalui anggota yang nanti akan dilibatkan,” ujar Dudung menambahkan.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan uji coba penggunaan bahan pemadam untuk menangani kebakaran di lahan gambut.

Dalam keterangan pada Jumat (9 Oktober 2026), BNPB menyebut bahan pemadam bernama Realiza Anti Chamas telah diuji coba di wilayah Banyuasin, Sumatera Selatan.

Bahan tersebut berupa serbuk yang dilarutkan dalam air, kemudian disemprotkan ke titik api untuk membantu menghambat penyebaran kebakaran.

Uji coba ini menjadi bagian dari upaya mencari metode pemadaman yang dapat mendukung penanganan karhutla, terutama di wilayah yang membutuhkan penanganan khusus seperti lahan gambut.

Pemerintah terus mengupayakan berbagai strategi agar pemadaman dapat berlangsung lebih efektif, baik dengan dukungan teknologi maupun pengerahan personel di lapangan.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Listyo Sigit Prabowo mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan karhutla dan mengkaji berbagai langkah yang dinilai efektif untuk mempercepat pemadaman.

Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan TNI, Polri, pemerintah daerah, serta kementerian terkait, termasuk Manggala Agni Kementerian Kehutanan, untuk terus melakukan upaya penanganan kebakaran.

Percepatan penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara. Pemerintah juga mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat serta mengkaji perbaikan regulasi untuk memperkuat upaya pencegahan.

 “Mulai dari satuan tugas udara, satuan tugas darat, hingga upaya sosialisasi dan edukasi serta perbaikan regulasi, semuanya sedang didorong. Termasuk mempersiapkan Badan Restorasi Gambut menjadi badan yang lebih fleksibel untuk menghadapi dan mencegah karhutla agar dapat diminimalkan,” kata Listyo.

Melalui kombinasi teknologi pemadaman, pengerahan personel, edukasi masyarakat, dan penguatan kelembagaan, pemerintah berharap kebakaran hutan dan lahan dapat segera dikendalikan.

Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat pencegahan agar kejadian karhutla tidak terus meluas dan menimbulkan dampak lebih besar terhadap lingkungan maupun masyarakat. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid