Kabut Asap dari Sumatera dan Kalimantan Kepung Singapura, PSI Tembus 173 dan Masuk Level Tidak Sehat

Sabtu, 10 Oktober 2026 15:06 WIB
Kabut asap di Marina Bay Street. (IDNVoice/Reuters)
Kabut asap di Marina Bay Street. (IDNVoice/Reuters)

IDNVoice.com – Kualitas udara di Singapura terus memburuk akibat kepungan kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini membuat kualitas udara di Negeri Singa mencapai level tidak sehat, sehingga warga diminta meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (9 Oktober 10), indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah pusat Singapura melonjak menjadi 173 pada pukul 10.00 waktu setempat. Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama musim kabut asap saat ini.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain. Pembacaan PSI di berbagai kawasan Singapura tercatat berada pada kisaran 117 hingga 166, yang seluruhnya masuk kategori tidak sehat.

Menghadapi kondisi tersebut, Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) menyarankan masyarakat untuk memantau kadar partikel halus PM2.5 setiap jam, terutama jika hendak melakukan aktivitas di luar ruangan.

NEA mengingatkan, peningkatan konsentrasi PM2.5 dapat berdampak terhadap kesehatan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap pencemaran udara.

Ketika kadar PM2.5 selama satu jam meningkat, masyarakat sehat disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan yang berat selama satu jam berikutnya.

Sementara itu, kelompok rentan, seperti lansia, wanita hamil, anak-anak, serta orang dengan penyakit jantung atau gangguan paru-paru kronis, diminta menghindari aktivitas berat di luar ruangan.

Dalam pengumuman yang dikeluarkan Kamis malam, NEA menyatakan bahwa kepulan asap dengan intensitas sedang hingga tebal terpantau bergerak menuju Singapura.

Asap tersebut berasal dari wilayah Sumatera bagian selatan dan tengah serta Kalimantan Barat.

NEA menjelaskan, arah angin yang bertiup dari tenggara atau selatan berpotensi membawa kabut asap terus bergerak menuju Singapura.

Dengan kondisi tersebut, NEA memperkirakan PSI 24 jam di Singapura berada dalam kisaran sedang hingga agak tidak sehat. Namun, perkembangan kualitas udara tetap bergantung pada pergerakan asap dan kondisi angin.

Situasi ini membuat pemantauan kualitas udara menjadi penting, terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan.

NEA mengelompokkan tingkat pencemaran udara berdasarkan pembacaan PSI 24 jam ke dalam sejumlah kategori.

  1. Tidak sehat: PSI 101–200.
  2. Sangat tidak sehat: PSI 201–300.
  3. Berbahaya: PSI di atas 300.

Dengan PSI mencapai 173, kualitas udara di pusat Singapura telah berada dalam kategori tidak sehat. Masyarakat pun diimbau memperhatikan perkembangan indeks pencemaran udara serta mengikuti rekomendasi kesehatan yang dikeluarkan otoritas setempat.

Kabut asap lintas wilayah yang kembali menyelimuti Singapura menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Asia Tenggara dapat menimbulkan dampak lingkungan yang melampaui batas negara. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid