Hashim di Hadapan Peraih Nobel Ekonomi: MBG Jadi Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 12:52 WIB
Board of Advisors Prasasti Hashim Djojohadikusumo dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. (IDNVoice/AF-Istimewa)
Board of Advisors Prasasti Hashim Djojohadikusumo dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. (IDNVoice/AF-Istimewa)

IDNVoice.com – Board of Advisors Prasasti, Hashim Djojohadikusumo, menjelaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Menurutnya, pemenuhan gizi anak berkaitan erat dengan kemampuan belajar, kualitas pendidikan, hingga produktivitas ketika memasuki usia kerja.

Hal tersebut disampaikan Hashim di hadapan peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson, dalam forum Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa. 

Hashim menegaskan, MBG merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang telah dijanjikan sejak masa kampanye. Program tersebut dinilai menjadi bagian penting dari upaya mengatasi persoalan gizi yang berpotensi menghambat perkembangan anak-anak Indonesia.

"Salah satu persoalannya, sekaligus yang menjadi landasan program kami adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mungkin sudah anda dengar. Program MBG merupakan salah satu program unggulan yang dijanjikan Presiden Prabowo selama kampanye," kata Hashim pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Ia mengungkapkan, gagasan mengenai program pemenuhan gizi anak sebenarnya telah muncul sejak 2006. Saat itu, Prabowo Subianto disebut menaruh perhatian terhadap kondisi gizi dan pendidikan anak-anak Indonesia, terutama tingginya angka tengkes atau stunting.

Hashim menyebut angka stunting pada anak-anak ketika itu mencapai sekitar 30 persen. Menurutnya, persoalan gizi tidak selalu disebabkan oleh anak-anak yang sama sekali tidak mendapatkan makanan, tetapi juga dapat terjadi ketika makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh.

Dalam paparannya, Hashim juga menyoroti kebiasaan anak-anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Ia mengungkapkan hasil kajian pemerintahan sebelumnya yang menunjukkan sekitar 41 persen anak sekolah di Indonesia berangkat ke sekolah tanpa makan pagi.

Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi mengganggu konsentrasi anak selama mengikuti pembelajaran di sekolah. Akibatnya, kemampuan mereka menyerap materi pelajaran dapat terpengaruh.

"Jadi bisa anda bayangkan ketika anak-anak harus mengikuti pelajaran selama tiga, empat atau lima jam dengan perut kosong," tuturnya.

Hashim memandang pemenuhan kebutuhan gizi sebagai persoalan mendasar yang perlu ditangani secara serius. Anak-anak yang memperoleh asupan nutrisi memadai diharapkan memiliki kesempatan lebih baik untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan kemampuan secara optimal.

Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas gizi generasi muda juga diharapkan mendukung produktivitas tenaga kerja dan memperkuat perekonomian nasional.

Menurut Hashim, upaya tersebut semakin penting bagi Indonesia yang ingin memanfaatkan bonus demografi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Selain persoalan gizi, Hashim turut menyoroti tantangan kualitas pendidikan Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain, termasuk Korea Selatan.

Ia mengacu pada Programme for International Student Assessment (PISA), sebuah penilaian internasional yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam sejumlah bidang pembelajaran.

Hashim menilai capaian pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara yang secara konsisten mencatat hasil tinggi dalam penilaian tersebut.

"Jika anda melihat, Korea hampir selalu berada di tiga besar, atau mungkin empat besar. Setahu saya, terakhir kali saya melihat negara-negara seperti Selandia Baru, Singapura, Korea, dan Finlandia berada di posisi teratas. Sementara itu, Indonesia hampir selalu berada di 10 persen terbawah, atau termasuk yang terburuk. Terakhir kali saya melihat, Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 70 negara. Kita (Indonesia) berada di peringkat ke-62 dari 70 negara," jelasnya.

Menurut Hashim, persoalan gizi dan pendidikan perlu dilihat sebagai dua aspek yang saling berkaitan dalam pembangunan kualitas SDM. Pemenuhan gizi yang baik diharapkan mendukung kemampuan belajar anak, sedangkan pendidikan berkualitas menjadi fondasi bagi terciptanya tenaga kerja yang kompeten dan produktif. 

Hashim menambahkan, program penyediaan makanan bergizi bagi anak sekolah sebenarnya bukan kebijakan baru di tingkat global. Sejumlah negara telah lebih dahulu menerapkan program serupa sebagai bagian dari upaya mendukung kesehatan dan pendidikan generasi muda.

Ia menilai Indonesia justru termasuk negara yang terlambat mengadopsi kebijakan pemenuhan gizi tersebut.

Karena itu, MBG tidak semata-mata dipandang sebagai program penyediaan makanan bagi anak-anak, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.

Melalui program tersebut, pemerintah diharapkan dapat memperkuat fondasi pembangunan SDM, meningkatkan kesempatan anak-anak untuk belajar secara optimal, serta mendorong produktivitas ketika mereka memasuki dunia kerja. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid