IDNVoice.com - Indonesia mendorong penguatan peran koperasi pertanian di kawasan ASEAN untuk menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu ketersediaan pangan.
Wakil Menteri Koperasi RI, Farida Farichah, menegaskan bahwa koperasi harus diperkuat sebagai penggerak sektor riil, terutama dalam menghubungkan petani dengan akses pembiayaan, teknologi, sarana produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran hasil pertanian.
“Perubahan iklim di dunia dan ASEAN semakin tidak menentu, hari ini kita merasakan sangat panas sekali efek dari El Nino dan tentu akan sangat berpengaruh pada ketersediaan pangan kita,” kata Farida dalam Sidang ke-32 ASEAN Centre for the Development of Agricultural Cooperatives (ACEDAC) di Yogyakarta pada Senin, 12 Oktober 2026.
Ia menambahkan, kerja sama antarnegara ASEAN menjadi langkah penting untuk memperkuat peran koperasi dalam mewujudkan kemandirian pangan.
“Kami sesama penggerak koperasi di ASEAN berkumpul berfokus untuk bagaimana bisa swasembada pangan agar koperasi-koperasi yang ada di ASEAN menjadi leading sector, menjadi garda terdepan swasembada pangan di masing-masing negara,” ujarnya.
Menurut Farida, penguatan kelembagaan menjadi kunci agar koperasi pertanian mampu berperan lebih besar dalam mendukung agenda swasembada pangan di setiap negara anggota ASEAN.
Melalui forum ACEDAC, Indonesia juga mendorong pertukaran pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan koperasi pertanian. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi koperasi terhadap ketahanan pangan sekaligus mendorong pembangunan ekonomi pedesaan.
Farida menyebut sejumlah koperasi pertanian Indonesia berpotensi menjadi contoh pengembangan koperasi di tingkat regional. Di antaranya Koperasi Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, Koperasi Sukamakmur, serta koperasi pengolahan susu yang berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
Pengalaman koperasi-koperasi tersebut diharapkan menjadi bahan pembelajaran bagi delegasi negara-negara ASEAN dalam mengembangkan sektor pangan dan pertanian sesuai kebutuhan masing-masing negara.
Pejabat Senior Divisi Pangan, Pertanian, dan Kehutanan Departemen Masyarakat Ekonomi ASEAN, Dian Sukmajaya, mengatakan pertukaran pengalaman juga dilakukan melalui kunjungan langsung ke koperasi yang dinilai berhasil mengelola sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Melalui kunjungan tersebut, para delegasi negara anggota ASEAN diharapkan dapat mempelajari praktik pengelolaan koperasi yang berhasil, kemudian menerapkannya dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di negara masing-masing.
Dian menegaskan, upaya tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkuat pengetahuan dan kapasitas koperasi pertanian di kawasan Asia Tenggara.
Dengan kolaborasi regional dan penguatan kelembagaan, koperasi pertanian diharapkan semakin mampu memperkuat rantai pasok pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. [DR]