Akademisi Sebut Hilirisasi Mineral Perlu Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Nasional

Kamis, 03 September 2026 21:03 WIB
Ilustrasi: Pekerja tambang dalam mengelola nikel. (IDNVoice/MIND.ID)
Ilustrasi: Pekerja tambang dalam mengelola nikel. (IDNVoice/MIND.ID)

IDNVoice.com - Akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas) Suhasman menilai peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri pertambangan dan mineral dapat memberikan manfaat ekonomi nasional yang semakin luas.

"Pengembangan industri pengolahan menjadi bagian penting agar komoditas mineral dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi sebelum dipasarkan," kata Suhasman dalam keterangan bersama MIND ID pada Kamis, 3 September 2026.

Menurut Suhasman, Indonesia memiliki sejumlah komoditas mineral strategis, antara lain nikel, tembaga, bauksit, emas, dan timah. Kekayaan mineral tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat rantai pasok industri sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Ia menilai pengelolaan sumber daya mineral tidak cukup hanya bertumpu pada kegiatan ekstraksi. Pengembangan industri pengolahan menjadi penting agar manfaat ekonomi dari sumber daya tersebut dapat diperluas.

"Hilirisasi juga membuka ruang bagi terbentuknya keterkaitan antara sektor pertambangan dengan industri pengolahan dan manufaktur sehingga manfaat sumber daya mineral dapat menjangkau kegiatan ekonomi yang lebih luas," kata Suhasman.

Hilirisasi Harus Sejalan dengan Tanggung Jawab Lingkungan

Di sisi lain, Suhasman menilai tarik-menarik antara kepentingan ekonomi dan lingkungan menjadi salah satu isu yang kerap muncul dalam pembahasan mengenai pertambangan.

Oleh karena itu, menurut dia, manfaat ekonomi tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab pengelolaan lingkungan dan manfaat sosial bagi masyarakat.

Lebih lanjut, ia mengatakan peningkatan nilai tambah sumber daya mineral pada akhirnya perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur ekonomi nasional.

"Dengan tetap memastikan kegiatan pertambangan dijalankan secara bertanggung jawab dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat," ujarnya.

Suhasman juga menilai pemahaman mengenai manfaat ekonomi pertambangan perlu dibangun secara lebih utuh. Pasalnya, pembahasan mengenai sektor tersebut kerap berfokus pada satu aspek dan belum menempatkan manfaat serta dampaknya secara berimbang.

Ia mengatakan informasi mengenai pertambangan perlu disertai konteks yang memadai agar masyarakat dapat memahami aktivitas industri tersebut, termasuk manfaat ekonomi yang dihasilkan dan konsekuensi lingkungan yang harus dikelola.

"Hal itu dinilai semakin relevan ketika Indonesia berupaya memperkuat pengelolaan sumber daya mineral melalui hilirisasi dan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri," kata dia.

Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya dipandang sebagai proses pengolahan komoditas mineral sebelum dipasarkan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat keterkaitan industri, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat dan perekonomian nasional. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid