Sinergi LAZISNU dan STAI Yogyakarta, Delapan Pelaku UMKM Didorong Naik Kelas

Sabtu, 29 Agustus 2026 17:31 WIB
Focus Group Discussion Inkubasi Bisnis LAZISNU DIY. (IDNVoice/NH-Istimewa)
Focus Group Discussion Inkubasi Bisnis LAZISNU DIY. (IDNVoice/NH-Istimewa)

IDNVoice.com - Kolaborasi antara lembaga sosial-keagamaan dan perguruan tinggi diwujudkan melalui kegiatan pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mempertemukan delapan pelaku usaha dengan dosen STAI Yogyakarta sebagai pendamping sekaligus mitra LAZISNU.

Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui perpaduan kepedulian sosial dan pengetahuan akademik. LAZISNU membawa semangat pemberdayaan masyarakat, sementara dosen STAI Yogyakarta memberikan pendampingan berbasis pengetahuan, pengalaman, serta pendekatan akademik yang aplikatif.

Bagi delapan pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan tersebut, pendampingan menjadi kesempatan untuk memperkuat usaha yang selama ini dibangun dengan keterbatasan. Mereka didorong agar mampu mengembangkan produk, memperluas pemasaran, memanfaatkan teknologi, serta meningkatkan kemampuan manajemen usaha.

Pendampingan juga menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi agar ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang di ruang kelas, tetapi dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

"Pendampingan UMKM adalah ikhtiar untuk menyalakan cahaya kemandirian. Ketika pengetahuan bertemu dengan ketekunan para pelaku usaha, maka peluang untuk tumbuh menjadi semakin terbuka," kata Nurhidayatulloh, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STAI Yogyakarta dalam keterangannya pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Kolaborasi STAI Yogyakarta dan LAZISNU dinilai penting karena pemberdayaan masyarakat membutuhkan kerja bersama. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan sumber daya akademik, sedangkan lembaga sosial memiliki pengalaman dalam membangun jejaring serta kepedulian di tengah masyarakat.

Sinergi keduanya diharapkan mampu menciptakan pola pemberdayaan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Pendampingan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan omzet, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi dan kapasitas pelaku usaha.

Delapan pelaku UMKM yang hadir membawa produk dan pengalaman usaha masing-masing. Melalui pendampingan tersebut, mereka diharapkan dapat naik kelas dan menjadikan usaha yang dirintis sebagai sumber penguatan ekonomi keluarga.

"Kegiatan ini juga diharapkan tidak berhenti pada satu kali pertemuan. Pendampingan secara berkelanjutan diperlukan agar pelaku UMKM mendapatkan penguatan dalam pengelolaan usaha, pengembangan produk, pemasaran, pemanfaatan teknologi, hingga peningkatan kapasitas manajemen," ujarnya.

Pada akhirnya, usaha kecil yang tumbuh dengan ketekunan dan mendapatkan dukungan pengetahuan diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan pendapatan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi keluarga dan masyarakat.

Sinergi LAZISNU dan STAI Yogyakarta menjadi ikhtiar untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari pengabdian sekaligus mendorong pemberdayaan UMKM menuju kemandirian ekonomi masyarakat. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid