Pascainsiden Dugaan Keracunan, 59 Santri Ponpes Manba`ul Hikam Dapat Pendampingan Kesehatan Jiwa

Jum'at, 04 September 2026 13:36 WIB
Dinkes Sidoarjo memberikan pendampingan kesehatan jiwa kepada santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba`ul Hikam, pada Kamis (3 September 2026), pascainsiden dugaan keracunan yang menimpa 644 santri pada Selasa (1 September 2026). (IDNVoice/Diskominfo Sidoarjo)
Dinkes Sidoarjo memberikan pendampingan kesehatan jiwa kepada santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba`ul Hikam, pada Kamis (3 September 2026), pascainsiden dugaan keracunan yang menimpa 644 santri pada Selasa (1 September 2026). (IDNVoice/Diskominfo Sidoarjo)

IDNVoice.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo tidak hanya menangani kondisi fisik santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba`ul Hikam pascainsiden dugaan keracunan pada Selasa (1 September 2026). Sebanyak 59 santri juga mendapat asesmen dan pendampingan kesehatan jiwa untuk memastikan kondisi psikologis mereka tetap terpantau.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan asesmen awal dilakukan sebagai langkah deteksi dini terhadap kondisi psikologis santri setelah insiden yang menyebabkan ratusan santri menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kami ingin memastikan kesehatan jiwa para santri juga mendapatkan perhatian. Melalui asesmen ini, kami mendeteksi awal untuk mendampingi mereka apabila ada santri yang membutuhkan dukungan lebih lanjut," kata Lakhsmie di Sidoarjo, Jawa Timur pada Kamis, 3 September 2026.

Asesmen cepat dan pendampingan tersebut dilakukan Tim Kesehatan Jiwa (Keswa) Puskesmas Tanggulangin bersama Tim Puskesmas Jabon pada Kamis.

Dalam kegiatan tersebut, para santri diberikan ruang untuk menceritakan kondisi serta perasaan yang mereka alami setelah insiden dugaan keracunan.

Menurut Lakhsmie, langkah tersebut penting untuk mengetahui apakah terdapat santri yang mengalami tekanan psikologis maupun membutuhkan dukungan lebih lanjut.

Hasil asesmen nantinya menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan bentuk pendampingan lanjutan. Dengan demikian, penanganan terhadap santri dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

"Pemkab Sidoarjo berupaya menangani santri-santri agar memperoleh pelayanan kesehatan yang maksimal. Kami tidak hanya melihat kondisi fisik para santri, tetapi juga psikologis. Para santri perlu mendapatkan rasa aman dan dukungan setelah mengalami situasi seperti ini," ujarnya.

Pendampingan kesehatan jiwa tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Sidoarjo dalam memastikan proses pemulihan santri berlangsung secara menyeluruh. Penanganan tidak berhenti setelah kondisi fisik dinyatakan membaik, tetapi juga mencakup aspek psikologis akibat pengalaman yang mereka alami.

Lakhsmie berharap asesmen dan pendampingan dapat membantu para santri melewati masa pemulihan dengan baik. Mereka diharapkan dapat kembali mengikuti kegiatan pendidikan dan keagamaan di lingkungan pesantren dengan perasaan aman dan nyaman. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid