Dugaan Keracunan MBG di Lasem, Taj Yasin Soroti SOP hingga Ancaman Penutupan SPPG

Jum'at, 04 September 2026 11:28 WIB
Murid SMA Negeri 1 Lasem diduga keracunan MBG. (IDNVoice/Liputan6)
Murid SMA Negeri 1 Lasem diduga keracunan MBG. (IDNVoice/Liputan6)

IDNVoice.com - Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 777 siswa dan guru SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menjadi sorotan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua Satgas Percepatan MBG Jawa Tengah, Taj Yasin, mengatakan kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan program MBG, khususnya terkait kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP).

"Di situ sudah jelas bahwa SOP harus dijalankan. Biasanya kalau ada keracunan seperti ini ada SOP yang terlewati," kata Taj Yasin pada Kamis, 3 September 2026.

Kasus tersebut mencuat setelah ratusan siswa dan guru SMAN 1 Lasem mengalami diare setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Rabu (2 September2026).

Menu yang disantap terdiri dari nasi, ayam bakar, tempe goreng, lalapan, dan potongan semangka.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan makanan dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB. Sejumlah siswa kemudian mengalami diare setelah pulang sekolah.

Namun, kondisi tersebut baru terlihat secara massal ketika siswa kembali masuk sekolah pada Kamis.

"Setelah mereka masuk sekolah hari ini, baru pada ke belakang (toilet) bolak-balik, massal itu," ucap Juhartutik.

Kondisi tersebut bahkan membuat sekitar 30 toilet yang tersedia di sekolah tidak mampu menampung siswa yang mengalami diare.

"Jadi pada pakai toilet guru dan toilet (di ruangan) saya juga tadi," katanya.

Juhartutik menduga ayam bakar dalam menu MBG menjadi salah satu penyebab. Ia mengaku menemukan kondisi ayam yang dinilai tidak normal.

"Jadi ayamnya itu saat dipegang seperti sudah berlendir," ungkapnya.

SPPG Disuspend

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofii, mengatakan sebanyak 777 warga sekolah diduga terdampak. Jumlah itu terdiri dari 752 siswa dan 25 guru atau bagian tata usaha.

"777 itu terdiri dari 752 siswa dan 25 guru atau bagian tata usaha," ujarnya.

Dari jumlah tersebut, 21 siswa mendapat penanganan di Puskesmas Lasem. Lima di antaranya dirawat inap karena mengalami diare cukup sering dan berisiko mengalami dehidrasi, sedangkan 16 lainnya menjalani rawat jalan.

Dinkes juga mencatat dua siswa menjalani rawat jalan di Puskesmas Pancur dan seorang siswa mendapat perawatan di praktik dokter pribadi.

Untuk memastikan sumber gangguan kesehatan, Dinkes Rembang mengambil sampel menu MBG dan sejumlah sampel dari SPPG Soditan, termasuk air yang digunakan dalam pengolahan makanan.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab pasti kejadian tersebut.

"Saat ini SPPG di-suspend untuk sementara. Keputusan dan kewenangan selanjutnya ada di BGN," ujar Ali.

SPPG Terancam Ditutup

Taj Yasin mengatakan evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap kejadian yang dialami siswa dan guru, tetapi juga terhadap seluruh proses penyediaan MBG di SPPG yang memasok makanan ke SMAN 1 Lasem.

Menurut dia, perlu ditelusuri apakah SPPG tersebut telah menjalankan seluruh SOP yang diwajibkan.

"Ya kita evaluasi kan. Kalau nanti SPPG-nya SOP-nya tidak dijalankan, ya terancam," kata Yasin ketika ditanya apakah SPPG pemasok MBG ke SMAN 1 Lasem bakal ditutup.

Dengan adanya dugaan pelanggaran SOP, pemerintah akan menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap SPPG Soditan.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memastikan keamanan makanan sejak bahan baku dipilih, diolah hingga didistribusikan kepada penerima manfaat. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid