IDNVoice.com - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) menjajaki kolaborasi strategis dengan PT Jamu Jago untuk mendorong jamu Indonesia naik kelas dan mampu bersaing di pasar global.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan jamu sebagai produk ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal yang memiliki nilai tambah tinggi, sekaligus memperkuat perannya dalam menggerakkan perekonomian daerah.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan jamu memiliki peluang besar untuk mendunia apabila dikembangkan dengan pendekatan yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas budaya Indonesia.
"Saya percaya jamu bisa mendunia. Agar jamu sejajar dengan produk global, kita harus memodernisasi kemasan serta penyajiannya, baik melalui format kekinian yang mudah diakses maupun bentuk kapsul yang praktis, tanpa menghilangkan akar budayanya," kata Irene dalam keterangannya pada Kamis, 3 September 2026.
Menurut Irene, potensi pasar global tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan rantai pasok (supply chain), branding, serta masih terbatasnya wirausahawan yang mampu membawa industri jamu ke skala yang lebih besar.
Karena itu, Kemenekraf dan PT Jamu Jago mulai menyelaraskan berbagai program, termasuk menjaga keberlanjutan tradisi kesehatan berbasis herbal sekaligus memperkuat keterlibatan pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) dalam rantai pasok industri jamu.
Langkah tersebut juga dibarengi upaya menghidupkan kembali budaya minum jamu di kalangan generasi muda. PT Jamu Jago memaparkan sejumlah inisiatif melalui edukasi dan inovasi produk agar jamu dapat diterima sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Irene menilai percepatan diperlukan agar potensi jamu tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru.
"Kita perlu bergerak cepat agar produk jamu ini benar-benar berputar untuk menggerakkan ekonomi Indonesia, sehingga nantinya seluruh persiapan yang matang ini dapat dengan mudah dikolaborasikan di berbagai lokasi yang ditargetkan," kata Irene.
Dorongan terhadap industri jamu juga sejalan dengan tren positif subsektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, subsektor kuliner menjadi penyumbang terbesar ekonomi kreatif pada 2025 dengan kontribusi 41,06 persen dan pertumbuhan 8,44 persen.
Kinerja ekspor subsektor tersebut juga menunjukkan peningkatan. Nilai ekspor barang ekonomi kreatif tercatat naik dari 0,23 miliar dolar AS pada Januari-April 2025 menjadi 0,28 miliar dolar AS pada Januari-April 2026.
Dengan momentum tersebut, pengembangan jamu dinilai memiliki peluang untuk memperluas pasar produk kreatif Indonesia, sekaligus menciptakan dampak ekonomi bagi pelaku usaha di daerah.
Komisaris Utama Jamu Jago Bambang Sutantio menyatakan kesiapan perusahaan untuk menindaklanjuti arahan Kemenekraf. Fokusnya antara lain memastikan ketersediaan produk, mempercepat pergerakan logistik, serta menyiapkan kebutuhan program Jamu Jago.
"Kami sangat senang Ibu Wamen Ekraf memiliki visi yang sama untuk membangkitkan jamu sampai kancah global. Terima kasih atas diskusi yang produktif untuk kemajuan program Jamu Jago, dan kami siap menindaklanjuti seluruh arahan Ibu Wamen demi kebangkitan jamu Indonesia," ujar Bambang.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem jamu dari hulu hingga hilir, sehingga warisan herbal Indonesia tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga berkembang menjadi produk kreatif modern yang memiliki daya saing di pasar internasional. [DR]