Pulihkan Trauma Anak Pascabencana, Kemenekraf Gelar Program Melukis di Aceh Tamiang

Kamis, 03 September 2026 17:53 WIB
Sejumlah pelajar tingkat SD dan SMP menyelesaikan lukisan mereka dalam kegiatan Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Anak-Anak di Aceh Tamiang. (IDNVoice/Kemenekraf)
Sejumlah pelajar tingkat SD dan SMP menyelesaikan lukisan mereka dalam kegiatan Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Anak-Anak di Aceh Tamiang. (IDNVoice/Kemenekraf)

IDNVoice.com - Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali rumah dan fasilitas umum. Di Kabupaten Aceh Tamiang, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk memulihkan kondisi psikososial mereka melalui seni.

Program bertajuk "Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Anak-Anak" tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan anak-anak terdampak banjir bandang sekaligus mengenalkan potensi ekonomi kreatif sejak dini.

"Setelah bencana, yang perlu dipulihkan bukan hanya bangunan, tetapi juga jiwa dan senyum anak-anak kita," kata Direktur Kuliner Kemenekraf Romi Astuti dalam keterangannya di Aceh Tamiang.

Program trauma healing berbasis seni rupa itu diikuti 100 peserta yang terdiri atas 50 siswa sekolah dasar (SD) dan 50 siswa sekolah menengah pertama (SMP). Mereka didampingi mentor profesional, seniman lokal, serta psikolog klinis.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak menuangkan pengalaman dan perasaan mereka melalui karya bertema "Bangkit" dan "Harapan Baru".

Romi mengatakan pemulihan pascabencana tidak semestinya hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik. Menurut dia, anak-anak yang terdampak juga membutuhkan ruang untuk kembali membangun harapan.

"Melalui seni, kita menyediakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan ketakutan, harapan, dan mimpi," ujarnya.

Menariknya, karya yang dihasilkan para peserta nantinya tidak berhenti sebagai media ekspresi. Karya anak-anak tersebut akan dikurasi untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai jual, seperti art print, tas, dan cenderamata.

Bahkan, program tersebut memanfaatkan material yang berasal dari lingkungan pascabencana. Pigmen alami dari lumpur dan debu sisa bencana digunakan sebagai medium lukis.

"Salah satu keunikan kegiatan ini adalah penggunaan pigmen alami yang berasal dari lumpur dan debu sisa bencana sebagai medium lukis. Hal itu menjadi simbolisasi transformasi trauma bencana menjadi sebuah karya seni," kata Romi.

Sementara itu, Pendiri Kids Biennale Indonesia Agatha Anggira Paramita Putri (Gie Sanjaya) menjelaskan pihaknya menggunakan metode observe, connect, invite, guide, reflect (KBI) yang menitikberatkan pada proses ekspresi anak.

"Fokus utama kami adalah pada proses dan pengalaman anak, bukan sekadar hasil akhir. Seni di sini berfungsi sebagai jembatan pemulihan jiwa," ujar Gie Sanjaya.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Aceh Tamiang Yusriati menilai kegiatan tersebut dapat membantu mempercepat pemulihan psikososial masyarakat, khususnya anak-anak.

"Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan melukis, melainkan upaya menyalakan api optimisme dan melatih ketangguhan anak-anak pascabencana," katanya.

Yusriati mengatakan rangkaian program tersebut merupakan implementasi Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam.

Program akan ditutup dengan pembuatan instalasi umbul-umbul secara kolektif. Karya tersebut direncanakan dipamerkan terlebih dahulu di tingkat lokal Aceh Tamiang sebelum dibawa ke Pameran Nasional di Jakarta.

"Karya tersebut rencananya dipamerkan di tingkat lokal Aceh Tamiang sebelum diboyong ke Pameran Nasional di Jakarta," demikian Yusriati. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid