CORE: Inflasi Pangan September Masih Moderat, Cabai Rawit dan Ayam Perlu Diwaspadai

Kamis, 03 September 2026 17:48 WIB
Pedagang melayani warga yang berbelanja kebutuhan pokok di kawasan Pasar Gang Baru, Kranggan, Semarang, Jawa Tengah pada Selasa, 1 September 2026. (IDNVoice/Antara Foto)
Pedagang melayani warga yang berbelanja kebutuhan pokok di kawasan Pasar Gang Baru, Kranggan, Semarang, Jawa Tengah pada Selasa, 1 September 2026. (IDNVoice/Antara Foto)

IDNVoice.com - Risiko inflasi pangan pada September 2026 diperkirakan masih berada dalam level moderat dan selektif. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai cabai rawit dan daging ayam ras menjadi komoditas yang paling perlu diwaspadai karena memiliki kerentanan berbeda terhadap tekanan harga.

Eliza mengatakan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan perlu dicermati, tetapi belum menunjukkan adanya krisis pasokan pangan secara nasional.

"Perkiraan risiko inflasi pangan September 2026 moderat, bukan krisis pasokan nasional. Tekanan ada, tetapi belum lepas kendali," kata Eliza dikutip dari Antara pada Rabu, 2 September 2026.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), kelompok pangan bergejolak (volatile food) mengalami inflasi 0,88 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Angka tersebut berbalik dari deflasi 1,68 persen pada Juli 2026.

Inflasi tersebut terutama didorong kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Secara tahunan, inflasi kelompok pangan bergejolak pada Agustus mencapai 4,06 persen, meningkat dibandingkan 2,52 persen pada Juli.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada Rabu menunjukkan harga rata-rata cabai rawit merah mencapai Rp82.850 per kilogram (kg), naik 11,96 persen. Sementara daging ayam ras segar berada di kisaran Rp42.600 per kg dan beras sekitar Rp14.650–Rp17.850 per kg, bergantung pada kualitas.

Eliza mengingatkan ketiga komoditas tersebut tidak bisa dipandang dengan penyebab yang sama. Daging ayam lebih dipengaruhi permintaan dan biaya produksi, cabai sangat sensitif terhadap cuaca, sedangkan persoalan beras lebih berkaitan dengan distribusi antardaerah.

"Menyamakan semuanya sebagai dampak kemarau adalah analisis yang terlalu simplifikasi untuk dijadikan dasar kebijakan," ujarnya.

Cabai Rawit Paling Rentan

Memasuki September, cabai rawit dinilai menjadi komoditas pangan yang paling rentan mengalami tekanan harga. Sifat cabai yang mudah rusak dan tidak dapat disimpan dalam waktu lama membuat perubahan kondisi cuaca dapat dengan cepat memengaruhi pasokan dan harga.

"Komoditas paling rentan di September itu cabai rawit, lalu daging ayam. Cabai mudah rusak, tidak bisa disimpan lama, dan sangat peka cuaca panas. Karena itu harganya bisa naik cepat," kata Eliza.

Untuk daging ayam, tekanan harga lebih banyak berasal dari faktor fundamental pasar. Beberapa di antaranya adalah biaya pakan, harga bibit ayam umur sehari atau day old chick (DOC), perkembangan permintaan, serta keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin.

Karakter ayam pedaging yang tidak dapat disimpan lama juga membuat keseimbangan antara pasokan dan permintaan cepat memengaruhi harga. Kondisi tersebut terutama menjadi tantangan bagi peternak mandiri yang menghadapi biaya pakan dan DOC di sisi hulu, tetapi harus segera menjual ayam hidup ketika memasuki masa panen.

Beras Bukan Soal Stok Nasional

Berbeda dengan cabai dan ayam, Eliza menilai risiko beras pada September lebih banyak berkaitan dengan kelancaran distribusi dibandingkan kekurangan stok secara nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras untuk konsumsi penduduk sepanjang Januari–September 2026 mencapai 28,71 juta ton. Angka itu meningkat tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi cadangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,25 juta ton hingga 12 Agustus 2026.

"Stok beras 5 juta ton lebih adalah prestasi cadangan, bukan jaminan harga di pasar tradisional," tutur Eliza.

Menurut dia, besarnya cadangan harus diikuti kemampuan pemerintah mendistribusikan beras secara cepat ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan maupun kenaikan harga.

Kemarau Tak Seragam

Tekanan pangan juga perlu dikaitkan dengan kondisi cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan 169 zona musim atau sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada September 2026.

Namun, Eliza menilai dampak kekeringan harus dilihat berdasarkan karakteristik daerah dan komoditas. Karena itu, kemarau tidak serta-merta dapat dijadikan indikator terjadinya gangguan pasokan pangan secara nasional.

Kementerian Pertanian mencatat luas pertanaman padi yang terdampak kekeringan sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 44.694 hektare. Dari luasan tersebut, sebanyak 12.304 hektare mengalami gagal panen.

Pemerintah telah melakukan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari pemetaan daerah rawan kekeringan hingga optimalisasi sumber air dari bendungan, jaringan irigasi, sungai, mata air, dan air tanah.

Pemanfaatan sumber air tersebut dilakukan melalui pompanisasi, perpipaan, sumur, embung, hingga irigasi perpompaan.

Pemerintah Diminta Bergerak Sebelum Harga Melonjak

Eliza menilai pemerintah perlu memperkuat langkah antisipasi sebelum kenaikan harga pangan berkembang menjadi tekanan yang lebih luas.

Menurut dia, pemerintah harus memastikan ketersediaan air bagi tanaman yang masih dapat diselamatkan, mempercepat perpindahan pasokan dari daerah surplus ke wilayah defisit, serta mengoptimalkan stok beras pemerintah di daerah yang mengalami kenaikan harga.

"Langkah paling mendesak bukan operasi pasar setelah harga sudah mahal. Pemerintah perlu selamatkan tanaman yang masih ada dengan pompa dan air irigasi, pindahkan pasokan dari daerah surplus ke daerah defisit, dan salurkan stok beras ke wilayah-wilayah yang harganya sudah naik," ucap dia.

Ia juga mendorong pemantauan berkala terhadap harga di tingkat petani, disparitas harga antarkota, curah hujan di sentra produksi, serta arus barang menuju pasar. Indikator tersebut penting untuk mendeteksi tekanan harga sejak dini.

Dalam jangka panjang, Eliza menilai ketahanan sistem pangan terhadap perubahan cuaca harus diperkuat. Upaya itu mencakup pembangunan infrastruktur air dan logistik, penyediaan fasilitas penyimpanan untuk komoditas yang mudah rusak, serta penguatan posisi petani dan peternak dalam rantai pasok. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid