Dugaan Keracunan MBG Meluas, 70 Murid di Empat Sekolah Bantul Terdampak

Jum'at, 11 September 2026 18:44 WIB
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Patalan 2, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (IDNVoice/SPPG Pilarboga Jetis)
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Patalan 2, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (IDNVoice/SPPG Pilarboga Jetis)

IDNVoice.com – Dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ternyata tidak hanya terjadi di satu sekolah. Berdasarkan data yang dihimpun DPRD Bantul, sedikitnya 70 murid dari empat sekolah diduga mengalami gejala keracunan setelah menerima makanan dari SPPG Patalan 2.

Keempat sekolah yang dilaporkan terdampak yakni SDN 1 Sumberagung, SD Patalan, SD Sawahan, dan SD Kembangsongo. SDN 1 Sumberagung tercatat menjadi sekolah dengan jumlah murid terdampak paling banyak.

Ketua Komisi D DPRD Bantul, Pramu Diananto Indratriatmo, mengatakan data tersebut diperoleh setelah pihaknya melakukan pendataan ke sejumlah sekolah yang menerima distribusi MBG dari SPPG Patalan 2.

"Setelah datanya kami kumpulkan ternyata korban dugaan keracunan dari SPPG Patalan 2 tersebar di beberapa sekolah dengan total 70 orang," katanya saat berkunjung ke SDN 1 Sumberagung pada Rabu, 9 September 2026.

SPPG Patalan 2 Diminta Dievaluasi Total

Pramu mengaku prihatin karena dugaan kejadian serupa kembali muncul. Terlebih, SPPG Patalan 2 disebut sebelumnya pernah berkaitan dengan insiden keracunan yang menimpa murid SMP di wilayah Jetis pada April lalu.

Karena kejadian kembali terjadi, DPRD Bantul meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan MBG, khususnya SPPG yang terlibat.

"Kami mohon untuk SPPG yang ada di Bantul melakukan usaha ini dengan hati. Layanilah anak-anak kami di Bantul dengan baik, tidak hanya mencari untung. Baik menu, cara mengolah harus sesuai standar, termasuk izin tolong dilengkapi," ungkapnya.

DPRD Bantul juga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi total terhadap seluruh SPPG di wilayah tersebut.

"Harus ada proses identifikasi dan evaluasi secara menyeluruh bagi semua SPPG di Bantul, kami minta ini jadi kejadian yang terakhir," paparnya.

50 Murid dan Tiga Guru Sempat Bergejala

Sementara itu, kondisi penerima MBG di SDN 1 Sumberagung mulai menunjukkan perkembangan. Kepala SDN 1 Sumberagung, Jetis, Parjiyatmi, mengatakan terdapat 50 murid dan tiga guru yang mengalami gejala dugaan keracunan.

Sebagian murid sudah mulai kembali ke sekolah. Namun, kondisi mereka belum sepenuhnya pulih sehingga sekolah memilih memulangkan siswa lebih awal.

"Murid yang Senin kemarin tidak sekolah sekarang ada yang sudah masuk tapi belum begitu fit, sehingga kami pulangkan jam 12.15 WIB, belum belajar penuh," katanya.

Parjiyatmi menyebut masih terdapat 11 murid yang belum dapat masuk sekolah. Salah seorang di antaranya masih menjalani perawatan di fasilitas layanan kesehatan.

Dari dua murid yang sebelumnya dirawat, satu orang sudah diperbolehkan pulang, tetapi belum cukup sehat untuk kembali mengikuti kegiatan belajar.

"Murid yang sempat dirawat itu ada dua orang satu sudah pulang ke rumah tapi masih belum bisa sekolah," katanya.

Sementara itu, satu guru yang sebelumnya menjalani perawatan telah kembali mengajar seperti biasa.

Sekolah Hentikan Sementara Program MBG

Munculnya dugaan keracunan membuat SDN 1 Sumberagung bersama perwakilan orang tua murid dan komite sekolah memutuskan sementara tidak menerima program MBG.

Sekolah juga menyatakan tidak akan menerima kembali makanan dari SPPG Patalan 2. Keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan utama keamanan dan kondisi kesehatan para murid.

"Memang sempat ada tawaran untuk beralih ke SPPG lain yang diklaim lebih aman, tapi semua akan diputuskan wali murid dan komite demi keamanan anak-anak di sekolah," ujarnya.

SPPG Patalan 2 Dihentikan Operasional

Dari sisi penyelenggara, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Sleman, Harsono Budi Waluyo, mengatakan pihaknya bersama instansi terkait terus memantau kondisi penerima manfaat yang masih menjalani perawatan.

Pemantauan dilakukan dengan berkoordinasi bersama Dinas Kesehatan, termasuk terkait pengambilan sampel makanan sebagai bagian dari tindak lanjut dugaan keracunan.

Evaluasi dilakukan terhadap seluruh tahapan penyelenggaraan MBG di SPPG Patalan 2. Pemeriksaan tidak hanya menyasar makanan yang telah dibagikan, tetapi juga proses sejak bahan baku diterima hingga makanan sampai kepada penerima manfaat.

Tahapan yang diperiksa meliputi penerimaan dan penyimpanan bahan baku, persiapan, pengolahan, pemorsian, penyimpanan, hingga distribusi makanan.

"Evaluasi juga diarahkan pada penerapan higiene sanitasi, pengendalian mutu, keamanan pangan, serta kepatuhan terhadap standar pada setiap tahapan produksi dan distribusi. Saat ini SPPG tersebut sudah diberhentikan operasionalnya," pungkas dia.

Dengan dihentikannya operasional SPPG Patalan 2, dugaan keracunan MBG yang melibatkan penerima manfaat di empat sekolah kini menjadi perhatian serius. DPRD Bantul mendorong evaluasi menyeluruh agar persoalan serupa tidak kembali terjadi dan keamanan makanan bagi penerima MBG benar-benar terjamin. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid