35 Orang Keluhkan Gangguan Kesehatan Usai Konsumsi MBG di Sleman, Bola-Bola Sapi Masih Ditelusuri

Selasa, 08 September 2026 22:11 WIB
Ilustrasi: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sorosutan 3 saat mempersiapkan MBG sebelum dibagikan ke penerima manfaat. (IDNVoice/Pemkot Yogyakarta)
Ilustrasi: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sorosutan 3 saat mempersiapkan MBG sebelum dibagikan ke penerima manfaat. (IDNVoice/Pemkot Yogyakarta)

IDNVoice.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman bersama Puskesmas Turi dan Field Epidemiology Training Program (FETP) Universitas Gadjah Mada (UGM) masih mendalami dugaan gangguan kesehatan yang dialami sejumlah penerima manfaat setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto, Kapanewon Turi.

Hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) sementara hingga Senin (7 September 2026) pukul 20.30 WIB menunjukkan, dari 261 responden yang diperiksa, sebanyak 35 orang mengalami keluhan kesehatan, sedangkan 226 lainnya tidak mengalami keluhan.

Dari keseluruhan responden tersebut, sebanyak 204 orang tercatat mengonsumsi MBG.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati mengatakan investigasi dilakukan setelah pihaknya menerima notifikasi dari Puskesmas Turi.

"Dinkes Kabupaten Sleman bersama Puskesmas Turi dan FETP UGM telah melakukan verifikasi kasus serta investigasi. Hasil sementara dari 261 responden, 35 orang mengalami keluhan kesehatan, dan 204 responden tercatat mengonsumsi MBG," ujarnya dalam keterangan resminya pada Selasa, 8 September 2026.

Pusing dan Sakit Perut Paling Banyak Dikeluhkan

Dari 35 orang yang mengalami gangguan kesehatan, keluhan yang paling banyak ditemukan adalah pusing dan sakit perut, yang masing-masing tercatat sebesar 86 persen.

Keluhan lainnya berupa mual sebanyak 69 persen, sakit kepala 66 persen, lemas 54 persen, serta muntah 34 persen.

Dari hasil pemeriksaan sementara, satu pasien masih menjalani rawat inap di RSUD Sleman hingga Senin malam. Sementara itu, 19 orang menjalani rawat jalan, tujuh orang berobat secara mandiri, dan sembilan orang tidak menjalani pengobatan.

Kasus terbanyak ditemukan di SMPN 3 Turi, yakni 30 kasus dari 162 responden.

Bola-Bola Sapi Jadi Menu yang Paling Disorot

Meski demikian, Dinkes Sleman belum dapat memastikan makanan tertentu sebagai penyebab munculnya gangguan kesehatan tersebut.

Hasil analisis epidemiologi terhadap lima menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Menu bola-bola sapi goreng memang memiliki ukuran asosiasi paling tinggi, tetapi masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

"Analisis epidemiologi terhadap menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Bola-bola sapi goreng menunjukkan ukuran asosiasi paling tinggi dan masih menjadi bagian yang ditelusuri dalam investigasi, tetapi belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian," ucap Yuli.

Untuk memastikan sumber kejadian, petugas telah mengambil sampel makanan dan air dari SPPG Wonokerto. Sampel tersebut dikirim untuk pemeriksaan laboratorium pada Senin (7 September 2026), sedangkan hasilnya masih ditunggu.

Distribusi MBG Dihentikan Sementara

Sebagai langkah pencegahan, distribusi dan konsumsi MBG di lokasi penerima dihentikan sementara setelah adanya laporan kejadian. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah bertambahnya jumlah kasus.

Berdasarkan pendataan sementara, terdapat 867 porsi MBG yang telanjur diterima, dibagikan, dan dikonsumsi di enam satuan pendidikan.

Dinkes Sleman bersama pihak terkait kini masih menelusuri rantai pasok makanan, faktor lingkungan, serta data epidemiologi untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai sumber dan penyebab kejadian.

"Pemkab Sleman terus memantau kondisi penerima MBG dan berkoordinasi dengan puskesmas, sekolah, SPPG, serta pihak terkait. Kesimpulan mengenai sumber dan penyebab kejadian akan disampaikan setelah seluruh hasil pemeriksaan dan investigasi diperoleh," ucap Yuli.

Dengan demikian, meski puluhan penerima manfaat mengalami keluhan kesehatan, belum ada kesimpulan bahwa MBG atau salah satu menu tertentu menjadi penyebabnya. Pemerintah daerah masih menunggu hasil laboratorium dan penyelidikan lanjutan sebelum menentukan sumber kejadian secara pasti. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid