Sampah Organik 38 SPPG di Bengkulu Capai 912 Kg per Hari

Senin, 07 September 2026 18:25 WIB
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jl. Sumur Dewa, Sumur Dewa, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, Bengkulu. (IDNVoice/Google Maps-Afifah Nufaisah)
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jl. Sumur Dewa, Sumur Dewa, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, Bengkulu. (IDNVoice/Google Maps-Afifah Nufaisah)

IDNVoice.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyisakan persoalan pemenuhan gizi, tetapi juga tantangan pengelolaan limbah. Di Kota Bengkulu, sampah organik dari 38 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diperkirakan mencapai 684 hingga 912 kilogram per hari.

Angka tersebut dihitung berdasarkan produksi sampah organik setiap SPPG yang berada pada kisaran 18 hingga 24 kilogram per hari.

Akademisi Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Deri Kermelita, mengatakan volume sampah yang cukup besar tersebut perlu diimbangi dengan sistem pengelolaan yang tepat agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan.

"SPPG itu sampah organiknya itu sekitar 18 hingga 24 Kg per SPPG per hari," ujar Deri pada Senin, 7 September 2026.

Jika mengacu pada 38 SPPG yang terdata hingga Mei 2026, produksi sampah organik tersebut mencapai sekitar 684 hingga 912 kilogram setiap harinya.

Masih Bergantung pada Pengepul

Deri mengungkapkan, sebagian besar SPPG di Kota Bengkulu saat ini belum mengolah sampah organiknya secara mandiri. Pengelola masih mengandalkan jasa pengepul untuk mengangkut sampah yang dihasilkan dari aktivitas dapur setiap hari.

"Itu mereka semua saat ini hanya mengandalkan membuang sampah ke pengepul sampah dengan cara membayar, jadi tidak mengolah sendiri," ucap Deri.

Kondisi tersebut mendorong pihaknya mencari alternatif pengolahan yang tidak sekadar memindahkan sampah dari SPPG, tetapi juga mengubahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat.

Salah satu metode yang disiapkan adalah pemanfaatan maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF). Sampah organik dari SPPG nantinya dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot.

"Makanya kami membuat satu metode kemarin untuk SPPG ini akan kita titipkan maggot, kemudian nanti sampah organiknya diolah oleh maggot," tutur Deri.

Melalui skema tersebut, sampah organik yang sebelumnya dibuang dapat masuk ke dalam rantai pemanfaatan baru.

Dari Sampah Menjadi Pakan Ikan

Maggot yang telah memasuki usia dewasa nantinya diambil untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan lele. Proses pengolahan dilakukan di Rumah Maggot Bina Hijau Mandiri sebagai bagian dari rangkaian pemanfaatan sampah organik.

Tidak berhenti pada produksi maggot, ikan lele yang dibudidayakan juga direncanakan kembali didistribusikan kepada SPPG.

Dengan demikian, pengelolaan tersebut dirancang membentuk sebuah siklus pemanfaatan. Sampah organik dari dapur SPPG menjadi pakan maggot, maggot dimanfaatkan untuk mendukung budidaya lele, kemudian hasil budidaya ikan direncanakan kembali masuk ke kebutuhan SPPG.

Pola ini diharapkan mampu memberikan manfaat ganda. Di satu sisi, volume sampah organik yang harus dibuang dapat ditekan. Di sisi lain, pengolahan tersebut berpotensi menghasilkan nilai ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan pangan.

Deri berharap metode maggot dapat diterapkan lebih luas seiring bertambahnya jumlah SPPG. Pengelolaan secara mandiri juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan SPPG terhadap pengepul.

Ke depan, pengolahan sampah organik melalui maggot diharapkan tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga menciptakan ekosistem pemanfaatan limbah yang memberikan nilai tambah bagi SPPG dan masyarakat. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid