IDNVoice.com – Nama Letnan Jenderal TNI Suharyanto menjadi sorotan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan korupsi dana siap pakai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mantan Kepala BNPB tersebut memiliki rekam jejak panjang di lingkungan militer, intelijen, hingga Istana Kepresidenan.
Perhatian terhadap Suharyanto menguat setelah adik kandungnya, Bima Setiawan, ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam perkara tersebut. KPK juga menyatakan telah menjelaskan posisi Suharyanto kepada Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI dalam proses pengusutan kasus.
Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein mengungkapkan, pembahasan mengenai posisi Suharyanto telah dilakukan bersama unsur Puspom TNI.
"Untuk Kepala BNPB (Suharyanto, red.), saat ekspose sudah dijelaskan juga posisinya kepada rekan-rekan Puspom TNI yang sudah hadir, baik pada tanggal 13 (Selasa, 13/10) dan 14 (Rabu, 14/10) yang lebih lengkap," kata Taufik di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta pada Jumat malam, 16 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut muncul setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan BNPB pada Selasa (13 Oktober 2026), yang mengamankan 15 orang.
Pada Rabu (14 Oktober 2026), KPK mengumumkan lima tersangka, yakni Bima Setiawan, Gabriel Purwaka Sigit, Richard Erlangga, Gery Prasetiawan, dan Syifa Nrika Ghifarin. Bima diketahui pernah menjabat sebagai tenaga ahli Kepala BNPB ketika Suharyanto memimpin lembaga tersebut.
Dalam rangkaian penyidikan, KPK juga menggeledah ruang Kepala BNPB dan sejumlah ruangan lain pada 14–15 Oktober 2026. Penyidik menyita barang bukti senilai sekitar Rp5,47 miliar, berupa uang rupiah dan valuta asing, emas fisik, tabungan emas, serta aset kripto.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB menggantikan Suharyanto pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Suharyanto merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Darat kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 8 September 1967. Ia merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1989 dan pernah menduduki berbagai jabatan strategis selama berkarier di militer.
Pada 2016, Suharyanto menjabat Kepala Biro Kepegawaian Settama Badan Intelijen Negara (BIN). Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Direktur Kontra Separatisme Deputi III BIN.
Kariernya berlanjut di lingkungan TNI dan pemerintahan. Ia pernah menjabat Kepala Staf Kodam Jaya pada 2018–2019, sebelum dipercaya menjadi Sekretaris Militer Presiden di Kementerian Sekretariat Negara pada 2019–2020.
Pada 2020–2021, Suharyanto menjabat Panglima Kodam V/Brawijaya. Setelah itu, ia ditunjuk sebagai Kepala BNPB untuk menggantikan Letjen TNI Ganip Warsito.
Suharyanto dilantik sebagai Kepala BNPB pada 17 November 2021 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 140/P Tahun 2021. Seiring penugasan tersebut, pangkatnya naik menjadi letnan jenderal atau bintang tiga.
Selama memimpin BNPB, ia bertanggung jawab atas lembaga yang memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana, termasuk koordinasi penanganan darurat dan pengelolaan dukungan pendanaan kebencanaan.
Kini, di tengah pengusutan kasus Korupsi BNPB, Presiden Prabowo Subianto juga mengganti Suharyanto dari kursi Kepala BNPB. Letjen TNI Kristomei Sianturi dilantik sebagai penggantinya pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Pergantian pimpinan tersebut berlangsung hanya dua hari setelah OTT KPK yang mengamankan 15 orang pada Selasa, 13 Oktober 2026. [DR]