Menelusuri Arti Kata "Kokopan" yang Terdengar saat Prabowo Salah Ucap di Sidang Kabinet Paripurna

Jum'at, 23 Oktober 2026 14:18 WIB
Tangkapan layar insta story Ariana Grande menanyakan arti kata Kokopan yang trending di jagad maya. (IDNVoice/Istimewa)
Tangkapan layar insta story Ariana Grande menanyakan arti kata Kokopan yang trending di jagad maya. (IDNVoice/Istimewa)

IDNVoice.com - Presiden Prabowo Subianto menjadi perbincangan warganet setelah mengalami salah ucap saat menyampaikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026. Ketika hendak mengucapkan terima kasih atas kekompakan jajaran kabinet selama dua tahun pemerintahan, Prabowo justru melafalkan kata yang terdengar seperti "kokopan".

Potongan video pidato tersebut kemudian ramai beredar di media sosial. Kata yang terdengar tidak biasa itu menarik perhatian warganet karena muncul dalam suasana resmi saat Presiden menyampaikan apresiasi kepada para menterinya. Peristiwa tersebut pun memunculkan rasa penasaran mengenai asal-usul dan arti kata "kokopan".

Kata yang terdengar dalam pidato Prabowo itu mengingatkan sebagian masyarakat pada kosakata bahasa Jawa, yakni "kokop" atau "ngokop".

Dalam Kamus Bahasa Jawa-Indonesia yang dikelola Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kedua kata tersebut memiliki arti minum dengan menyelupkan mulut ke sumber air, seperti binatang yang sedang minum, atau minum secara langsung.

Makna tersebut membuat kata "kokopan" terdengar menggelitik ketika dikaitkan dengan konteks pidato Presiden yang sebenarnya hendak menyampaikan apresiasi atas kekompakan kabinet. Perbedaan antara kata yang dimaksud dan kata yang terdengar itulah yang kemudian menjadi bahan pembicaraan di media sosial.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa kamus resmi tersebut mencatat kata "kokop" dan "ngokop" sebagai kosakata bahasa Jawa. Kamus itu tidak menetapkan "kokopan" sebagai bentuk baku yang memiliki arti minum secara langsung dari sumber air atau wadah.

Dengan demikian, kata "kokopan" yang ramai diperbincangkan sebaiknya dipahami sebagai bunyi yang terdengar dalam momen salah ucap tersebut, bukan sebagai kata baku yang secara resmi memiliki arti sebagaimana kosakata "kokop" dan "ngokop". [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid