Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Dibuka hingga Trump dan Netanyahu Lengser

Jum'at, 18 September 2026 13:38 WIB
Sejumlah kapal niaga milik Iran dan negara lain masih berlabuh di Selat Hormuz, Bandar Abbas, Iran. (IDNVoice/Anadolu Agency)
Sejumlah kapal niaga milik Iran dan negara lain masih berlabuh di Selat Hormuz, Bandar Abbas, Iran. (IDNVoice/Anadolu Agency)

IDNVoice.com - Iran menegaskan belum akan membuka kembali Selat Hormuz selama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih berada di tampuk kekuasaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Mohammad Baqer Zolqadr, penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Kamis. Pernyataan itu juga dilaporkan sejumlah media dengan mengacu pada kantor berita Iran, ISNA.

"Para pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Trump yang kriminal dan Netanyahu yang haus darah diturunkan dari kursi kekuasaan mereka, dan ini merupakan tahap pertama pembalasan bangsa Iran," kata Zolqadr seperti dikutip ISNA pada Kamis, 17 September 2026.

Pernyataan tersebut menandai semakin kerasnya sikap Teheran terkait jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik penting dalam konflik Iran, AS, dan Israel.

Konflik terbaru bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sasaran yang terkait dengan AS dan Israel.

Pada pertengahan Juni, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman terkait penghentian permusuhan. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama dan ketegangan kembali meningkat. Sejumlah laporan terbaru menyebut lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berada jauh di bawah kondisi normal.

Situasi tersebut berdampak langsung terhadap jalur perdagangan energi dunia. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair.

Gangguan pelayaran di kawasan tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara. Reuters melaporkan lalu lintas kapal komoditas yang melewati Selat Hormuz pada 17 September hanya empat kapal, dibandingkan rata-rata 16 kapal dalam 10 hari sebelumnya.

Dengan pernyataan terbaru Zolqadr, pembukaan kembali Selat Hormuz kini dikaitkan secara langsung dengan perubahan politik di Washington dan Tel Aviv. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid