IDNVoice.com - Jumlah siswa yang mengalami gejala dugaan keracunan setelah menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus bertambah. Hingga Rabu (9/9/2026) sore, sebanyak 230 siswa telah mendapat penanganan medis.
Lonjakan pasien yang datang secara bergelombang bahkan membuat tiga rumah sakit di Kabupaten Pati mengalami kelebihan kapasitas atau overload. Para siswa dilaporkan mengalami sejumlah gejala seperti mual, muntah, dan lemas.
Sebanyak 230 siswa tersebut berasal dari dua sekolah, yakni 103 siswa SMPN 1 Gembong dan 127 siswa MTsN 3 Pati. Mereka diduga mengonsumsi makanan dari program MBG yang dibagikan sehari sebelumnya.
Para siswa awalnya dievakuasi ke Puskesmas Gembong. Namun, banyaknya pasien yang berdatangan membuat kapasitas Unit Gawat Darurat (UGD) puskesmas tidak mencukupi. Sebagian korban kemudian dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati dan sejumlah rumah sakit swasta terdekat.
Direktur Utama RSUD RAA Soewondo Pati Ahmad Husin mengatakan jumlah pasien terus meningkat sejak pertama kali menerima rujukan.
"Pada awalnya hanya masuk sekitar 136 orang, tapi semakin siang terus bertambah. Yang mengalami muntah dan lemas langsung kita beri penanganan diinfus supaya cepat mendapatkan pertolongan," ujar Ahmad Husin pada Rabu, 9 September 2026.
Merespons kejadian tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati langsung mengamankan sampel makanan yang dikonsumsi para siswa. Tim khusus juga diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penyelidikan.
Perwakilan Dinkes Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, mengatakan penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat disimpulkan. Pemeriksaan masih dilakukan untuk memastikan apakah gejala yang dialami para siswa berkaitan dengan makanan MBG.
"Informasi awal ini merupakan dugaan keracunan dari makanan MBG yang disajikan kemarin. Tapi sekali lagi ini masih dugaan. Tim kami sedang melakukan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan uji laboratorium," kata Luky.
Sampel makanan dan pemeriksaan epidemiologis menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan untuk mengetahui sumber maupun penyebab munculnya gejala secara massal.
Hingga Rabu malam, tim medis gabungan masih bersiaga menangani para siswa yang menjalani perawatan inap maupun observasi rawat jalan. Penanganan dilakukan untuk memastikan kondisi para korban tetap terpantau dan mendapatkan pertolongan sesuai kebutuhan.
Insiden tersebut kembali menjadi perhatian terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya dalam aspek keamanan pangan, pengawasan proses penyediaan makanan, hingga penanganan cepat apabila muncul dugaan kejadian luar biasa di lapangan. [DR]