Tiga Kali Diperingatkan, SPPG Sukorejo 2 Diusulkan Ditutup Usai Dugaan Keracunan MBG

Rabu, 09 September 2026 19:41 WIB
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tunjungan Sukorejo 2 di Perumahan Blingi Bahagia, Dusun Gersapi, Desa Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (IDNVoice/Google Maps-Listia Ningsih)
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tunjungan Sukorejo 2 di Perumahan Blingi Bahagia, Dusun Gersapi, Desa Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (IDNVoice/Google Maps-Listia Ningsih)

IDNVoice.com - Dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Sebanyak 136 siswa dan satu guru SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Senin, 7 September 2026.

Kasus tersebut mendorong Kepala Satuan Tugas (Satgas) MBG Blora, Sri Setyorini, meminta Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2 yang menjadi penyedia makanan bagi para penerima manfaat.

Sri mengatakan dugaan keracunan di SMAN 1 Tunjungan bukan kejadian pertama yang melibatkan SPPG tersebut. Menurut dia, SPPG Sukorejo 2 telah tiga kali mendapat peringatan.

"Sudah tiga kali diperingatkan. Ini yang ketiga. Kita akan mengusulkan (kepada BGN) untuk ditutup," kata Sri pada Selasa, 8 September 2026.

Meski demikian, keputusan mengenai penutupan permanen SPPG berada di tangan BGN. Selain mengusulkan penghentian operasional, Satgas MBG Blora juga meminta pihak SPPG mengembalikan dana yang telah diterima kepada BGN.

Pengembalian tersebut dihitung berdasarkan jumlah penerima manfaat dikalikan dengan nilai anggaran makanan yang telah disalurkan. Pihak SPPG juga diwajibkan menyertakan bukti transfer pengembalian dana.

"Kami meminta SPPG mengembalikan dana ke BGN sesuai dengan jumlah penerima manfaat dikalikan harga. Nanti juga harus ada bukti transfernya," kata Sri.

Temuan Ulat di Sekolah Lain

Persoalan pada penyedia MBG tersebut juga mencuat setelah Satgas menemukan adanya ulat atau belatung dalam makanan yang diterima siswa SD Tahfidz Al Banjari, Kecamatan Tunjungan, Blora.

Temuan itu terjadi pada hari yang sama dengan munculnya dugaan keracunan di SMAN 1 Tunjungan.

"Di SD Al Banjari juga kami temukan ada ulat atau belatung di makanan," ujar Sri.

Sri menegaskan temuan tersebut merupakan kejadian terpisah dari dugaan keracunan di SMAN 1 Tunjungan. Belum ada kepastian bahwa keberadaan ulat atau belatung tersebut berkaitan langsung dengan gangguan kesehatan yang dialami siswa dan guru SMAN 1 Tunjungan.

Namun, temuan tersebut menjadi catatan serius terkait kebersihan dan sanitasi makanan MBG yang diproduksi SPPG Sukorejo 2.

Siswa Mengeluh Sakit Perut hingga Diare

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Tunjungan, Yuni Ni`wati, mengatakan dugaan keracunan mulai diketahui setelah sejumlah siswa mengeluhkan gangguan kesehatan usai menyantap makanan MBG.

Menu yang dibagikan kepada siswa antara lain ayam, tempe goreng, dan brokoli.

Sejumlah siswa mengalami sakit perut, mual, pusing hingga diare. Pihak sekolah kemudian mengumpulkan siswa yang mengalami gejala serupa di aula sebelum melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait.

"Awalnya ada keluhan, kemudian karena ada keluhan, maka men-tracking. Semuanya yang bergejala diminta ke aula. Kemudian kita melaporkan dan DKK datang untuk memeriksa," kata Yuni pada Selasa, 8 September 2026.

Berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora, sebanyak 133 siswa telah diperiksa. Seorang guru juga mengalami keluhan kesehatan. Selain itu, tiga siswa tidak masuk sekolah karena mengalami diare.

Dengan demikian, total terdapat 137 orang yang dilaporkan mengalami keluhan, terdiri atas 136 siswa dan satu guru.

Dari jumlah tersebut, enam siswa sempat dirujuk untuk mendapatkan penanganan medis. Tiga siswa telah diperbolehkan pulang, sementara tiga lainnya masih menjalani penanganan. Terdapat pula tiga siswa yang kondisinya memungkinkan untuk beristirahat di rumah.

"Jumlah yang pasti 133 yang dirujuk enam, tiga sudah pulang, tiga masih di sana, tiga ada di rumah," ujarnya.

Yuni mengatakan kejadian tersebut merupakan kasus pertama yang dialami sekolah sejak program MBG berjalan. Insiden itu bahkan membuat sejumlah siswa merasa trauma.

Hingga kini, penyebab pasti munculnya gangguan kesehatan pada siswa dan guru SMAN 1 Tunjungan masih dalam penelusuran.

Kasus ini sekaligus menjadi perhatian terhadap pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG, terutama setelah Satgas MBG Blora mencatat SPPG Sukorejo 2 telah tiga kali mendapatkan peringatan. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid