Khofifah Ajak Masyarakat Hidupkan Kembali Turots, Warisan Keilmuan Ulama Nusantara

Kamis, 27 Agustus 2026 17:28 WIB
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengamati karya ulama dalam pameran turots dan klinik turots di Jombang, Jawa Timur pada Kamis, 27 Agustus 2026. (IDNVoice/Pemprov Jatim)
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengamati karya ulama dalam pameran turots dan klinik turots di Jombang, Jawa Timur pada Kamis, 27 Agustus 2026. (IDNVoice/Pemprov Jatim)

IDNVoice.com - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali khazanah turots sebagai mata rantai keilmuan dan peradaban Islam Nusantara. Menurutnya, karya-karya ulama terdahulu tidak boleh berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi harus terus dikaji dan dikembangkan agar dapat memberi kontribusi bagi dunia.

"Turots bukan sekadar peninggalan, tetapi warisan mata rantai keilmuan ulama Nusantara yang harus dihidupkan, dikaji dan dikembangkan supaya menjadi referensi bagi dunia," katanya saat membuka Pameran dan Klinik Turots di Jombang pada Kamis, 27 Agustus 2206.

Khofifah mengatakan khazanah pemikiran ulama Nusantara memiliki kedalaman keilmuan yang luar biasa dan masih relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer.

Karena itu, penggalian manuskrip dan karya ulama Nusantara, menurut dia, harus dilakukan secara serius. Upaya tersebut mencakup preservasi, digitalisasi, kajian, hingga membangun jejaring kemitraan di tingkat internasional.

Manuskrip Kuno hingga Sejarah NU Dipamerkan

Pameran turots di Jombang menampilkan berbagai khazanah peninggalan ulama dari sejumlah pesantren di Nusantara. Di antaranya naskah kuno ulama, katalog naskah pesantren, sejarah NU dari masa ke masa, galeri ke-NU-an, jejak aksara di Nusantara, serta karya para ulama dan masyayikh PBNU.

Sementara itu, klinik turots menghadirkan layanan konsultasi mengenai naskah sekaligus memperlihatkan proses digitalisasi dan restorasi manuskrip.

Khofifah turut melihat langsung proses tersebut. Ia menilai perkembangan teknologi preservasi membuka peluang besar untuk menyelamatkan manuskrip yang telah lapuk.

Menurutnya, teknologi memungkinkan tulisan dalam manuskrip yang sebelumnya sulit atau bahkan tidak terlihat untuk kembali terbaca sehingga kandungan intelektualnya dapat dikaji oleh generasi saat ini.

Karya Ulama Nusantara Diperkenalkan ke Dunia

Khofifah mengatakan upaya memperkenalkan karya ulama Nusantara juga telah dikembangkan melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh.

Pameran karya ulama Nusantara di Arab Saudi, kata dia, mendapat respons positif dari diplomat, pemerintah, maupun kalangan akademisi setempat.

"Mereka kemudian mengenali pikiran dan kedalaman keilmuan ulama-ulama kita. Oleh karenanya, kita harus menguatkan format kemitraan kita tidak hanya dengan ulama yang punya karya-karya di Jawa Timur tapi ulama Nusantara," ujarnya.

Menurut Khofifah, penguatan khazanah turots semakin relevan dengan pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU di Jombang. Penerbitan, digitalisasi, preservasi, dan kajian karya ulama Nusantara dinilai dapat memperkaya referensi keilmuan Islam sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan intelektual dunia.

"Saya rasa ini seiring Muktamar ke-35 NU yang diikuti penggalian keilmuan para ulama kita lewat diterbitkannya turots ini," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyerahkan dua kompilasi karya ulama Jawa Timur, yakni Majmū"ah al-Muṣannafāt as-Sāmiyah li Ba`ḍ Ulamā’ Jawa asy-Syarqiyyah dan Majma al-Anwār min Rasā’il al-Akhyār.

Kedua karya tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dengan Nahdlatut Turots.

Pesantren Jadi Penjaga Tradisi Keilmuan

Khofifah juga menyebut Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya telah memiliki program studi tingkat magister yang berkaitan dengan turots.

Keberadaan program tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem akademik untuk mengkaji, merawat, sekaligus mengembangkan warisan intelektual ulama Nusantara.

Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU K.H. Afifuddin Muhajir menegaskan kebangkitan ulama tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan turots. Menurutnya, kitab-kitab peninggalan ulama terdahulu merupakan bagian penting dari mata rantai tradisi keilmuan Islam.

"Tidak akan ada kebangkitan ulama kalau tidak ada kebangkitan turots," kata Afifuddin.

Ia menjelaskan kitab-kitab turots tidak hanya berisi ilmu agama, tetapi juga menjadi sumber sekaligus perangkat keilmuan untuk memahami agama secara lebih mendalam.

Afifuddin juga menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam mempertemukan tradisi kesalafan dengan kemodernan. Namun, perpaduan tersebut tidak akan berjalan tanpa perhatian terhadap kitab-kitab turots sebagai fondasi tradisi keilmuan pesantren.

"Pesantren ini menjadi memadukan kesalafan dan kemodernan. Unsur itu tidak mungkin terwujud tanpa memperhatikan kitab turots ini," ujarnya.

Ia berharap pengembangan khazanah keilmuan ulama terdahulu dapat terus dilestarikan dengan melibatkan seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap turots. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid