1.487 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan, BNPB Waspadai Ancaman Karhutla Meluas

Jum'at, 21 Agustus 2026 14:34 WIB
Ilustrasi: Petugas melakukan pemadaman kebakaran lahan di wilayah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (IDNVoice/Antara Foto)
Ilustrasi: Petugas melakukan pemadaman kebakaran lahan di wilayah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (IDNVoice/Antara Foto)

IDNVoice.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi 1.487 titik panas yang berpotensi menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan. Pemerintah meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah daerah mulai merasakan dampak kabut asap.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan data tersebut diperoleh berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis, 20 Agustus 2026.

Konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kalimantan Tengah dengan 767 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik.

"Sementara itu di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terdeteksi 74 titik, serta Kalimantan Utara sebanyak tiga titik," kata Berton dalam keterangannya pada Jumat, 21 Agustus 2026.

BNPB Perkuat Deteksi Dini

Berton mengatakan sebaran titik panas tersebut menjadi perhatian serius pemerintah. Upaya pencegahan dilakukan agar titik panas tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas dan menimbulkan dampak terhadap masyarakat.

Pemerintah pusat melalui BNPB siap memperkuat kemampuan pemerintah daerah, mulai dari pemantauan intensif, pemetaan wilayah rawan, hingga penanganan darurat sesuai kondisi di lapangan.

"Untuk mengantisipasi agar dampaknya tidak meluas, BNPB bersama pemerintah daerah terus memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan, serta deteksi dini terhadap potensi karhutla dan memastikan ketersediaan sarana prasarana pemadaman," kata dia.

BNPB juga mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menyosialisasikan gerakan untuk tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau.

Kondisi kemarau tahun ini perlu mendapat perhatian lebih karena dipengaruhi fenomena El Nino yang membuat kondisi lebih kering dan meningkatkan risiko kebakaran.

Menurut BNPB, langkah sederhana seperti tidak membakar lahan memiliki peran penting dalam mencegah dampak karhutla, mulai dari gangguan pernapasan akibat paparan asap, terganggunya aktivitas ekonomi, hingga kerusakan ekosistem.

"Apabila masyarakat mengetahui atau melihat kejadian kebakaran, segera lapor kepada otoritas daerah setempat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif," ujar Berton.

Kualitas Udara Banjarbaru Masuk Kategori Berbahaya

Ancaman karhutla mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan.

Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kualitas udara dalam 24 jam terakhir memburuk hingga mencapai tingkat ekstrem atau sangat tidak sehat akibat tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita. Angka tersebut masuk kategori Berbahaya dan jauh melampaui ambang batas 250,5 mikrogram per meter kubik untuk kategori tersebut.

Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Kabut Asap Ganggu Penerbangan

Dampak kabut asap juga mulai mengganggu sektor transportasi udara.

Di Kalimantan Tengah, kabut asap akibat karhutla menyebabkan penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, dibatalkan dalam dua hari terakhir.

Sementara itu, seluruh penerbangan dari dan menuju Bandara Singkawang, Kalimantan Barat, juga dihentikan sementara pada Jumat. Kabut asap yang semakin tebal membuat jarak pandang berada di bawah batas aman operasional penerbangan.

Situasi tersebut menunjukkan ancaman karhutla tidak hanya berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga konektivitas antarwilayah.

BNPB mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan segera melaporkan apabila menemukan titik kebakaran agar dapat ditangani sebelum meluas. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid