IDNVoice.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menyisir sejumlah desa terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sulit diakses. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan korban terdata dan bantuan dapat segera disalurkan ke lokasi yang membutuhkan.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan penyisiran dan asesmen langsung pertama dilakukan di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, meliputi Dusun Coal di Desa Coal dan Dusun Dahang di Desa Pangga.
"Kami saat ini langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi masyarakat. Dari laporan camat sudah ada bantuan pangan dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti," kata dia dalam keterangannya pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut Abdul, kedua wilayah tersebut membutuhkan penanganan khusus karena hingga kini belum seluruh bantuan pascagempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi empat hari sebelumnya dapat diterima masyarakat. Salah satu kendala utama adalah akses menuju lokasi.
Dari pos pendukung di Labuan Bajo, tim BNPB harus menempuh perjalanan darat menggunakan mobil selama sekitar 3,5 jam untuk mencapai kedua desa yang berada di sekitar kawasan Gunung Mbeliling, Manggarai Barat.
Hasil asesmen tim BNPB menunjukkan dampak gempa di wilayah tersebut cukup parah. Sebanyak 148 rumah warga mengalami kerusakan, terdiri atas 101 rumah rusak berat, 12 rusak sedang, dan 35 rusak ringan. Gempa tersebut juga menyebabkan satu warga meninggal dunia.
Selain kerusakan rumah, jumlah warga yang harus meninggalkan tempat tinggalnya juga cukup besar. Sebanyak 1.108 jiwa mengungsi di Desa Coal, sedangkan lebih dari 20 keluarga memilih mengungsi secara mandiri di Desa Pangga.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas gabungan dalam memastikan seluruh korban mendapatkan bantuan secara merata.
Abdul mengatakan tim menemukan banyak warga yang memilih mengungsi secara mandiri, bukan menuju lokasi pengungsian utama yang telah disiapkan pemerintah.
Pilihan tersebut dilakukan karena warga masih mengalami trauma dan khawatir terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
"Akibat trauma serta ancaman guncangan gempa susulan banyak warga mendirikan tenda di sekitar rumah yang tak rusak. Tapi kita pastikan selama masih ada pengungsi-pengungsi mandiri ini sekali lagi kita pastikan kebutuhan makanan dan permakanan terpenuhi," kata dia.
Menurut Abdul, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan jumlah bantuan, tetapi juga bagaimana bantuan tersebut dapat menjangkau warga yang tersebar di lokasi-lokasi sulit diakses.
Karena itu, BNPB terus melakukan pemetaan terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus mencari jalur distribusi paling cepat agar bantuan pangan dan kebutuhan dasar dapat segera diterima para korban gempa di wilayah terdampak. [DR]