IDNVoice.com - Jaringan Nahdlatul Ulama Kultural (Janur) mendorong keterlibatan ulama perempuan dalam forum strategis Nahdlatul Ulama (NU), termasuk menjadi anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-35 NU yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026.
Penggerak Janur Aan Anshori menilai keberadaan ulama perempuan dalam AHWA penting karena forum tersebut memiliki posisi strategis dalam pengambilan keputusan organisasi, terutama dalam menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Menurut Aan, komposisi AHWA seharusnya tidak hanya mempertimbangkan aspek jenis kelamin, tetapi lebih mengedepankan kapasitas dan kontribusi seseorang terhadap organisasi serta umat.
"AHWA semestinya diisi berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, dan kemampuan menjaga kemaslahatan jam`iyah," kata Aan dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Aan mengatakan mekanisme AHWA yang digunakan selama ini perlu dikaji kembali. Ia menyoroti seluruh anggota AHWA yang terpilih selama ini merupakan laki-laki, sementara tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit menyatakan bahwa anggota AHWA harus laki-laki.
Menurut dia, NU memiliki tradisi panjang dalam melahirkan ulama perempuan yang memiliki kontribusi besar dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan pesantren, pelayanan sosial, pengembangan pemikiran keislaman hingga kehidupan kebangsaan.
Karena itu, Janur menilai sudah saatnya sumber daya keulamaan perempuan mendapatkan ruang yang lebih nyata dalam forum strategis organisasi.
Aan menyebut setidaknya terdapat dua ulama perempuan yang dinilai memiliki kualifikasi untuk menjadi anggota AHWA, yakni Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid.
Sinta Nuriyah dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam menyuarakan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, serta kehidupan beragama yang inklusif.
Istri Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut juga pernah menjadi bagian dari kepengurusan Mustasyar PBNU dalam beberapa periode.
Sementara itu, Machfudhoh Aly Ubaid memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan pesantren dan perjuangan NU. Putri Kiai Wahab Chasbullah tersebut juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.
"Kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki sumber daya keulamaan perempuan yang tidak dapat dipandang sebagai pelengkap," ujarnya.
Aan menegaskan, dorongan agar ulama perempuan dapat masuk dalam AHWA tidak semata-mata berkaitan dengan keterwakilan berdasarkan jenis kelamin.
Menurutnya, kehadiran ulama perempuan justru dapat memperluas perspektif keulamaan dalam proses pengambilan keputusan organisasi.
"Sudah waktunya NU tidak hanya berbicara tentang pentingnya peran ulama perempuan, tetapi juga memberikan ruang nyata kepada mereka dalam forum strategis pengambilan keputusan organisasi, termasuk dalam sembilan anggota AHWA," kata Aan.
Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Muktamar menjadi forum permusyawaratan tertinggi NU untuk membahas berbagai agenda strategis organisasi, termasuk pemilihan kepengurusan baru.
Dorongan Janur tersebut menambah dinamika menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU, khususnya terkait komposisi AHWA dan ruang partisipasi ulama perempuan dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi. [DR]