Kampus Bergerak Tangani Dampak Gempa NTT 7,7, Mahasiswa hingga Tim Medis Turun ke Lapangan

Selasa, 18 Agustus 2026 15:57 WIB
Sejumlah anak korban gempa bumi mengantre untuk mengikuti lomba memeriahkan HUT ke-81 RI di lokasi pengungsian Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur pada Senin, 17 Agustus 2026. (IDNVoice/Antara Foto)
Sejumlah anak korban gempa bumi mengantre untuk mengikuti lomba memeriahkan HUT ke-81 RI di lokasi pengungsian Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur pada Senin, 17 Agustus 2026. (IDNVoice/Antara Foto)

IDNVoice.com - Sejumlah perguruan tinggi bergerak cepat membantu penanganan dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain memastikan keselamatan sivitas akademika, kampus juga mengerahkan relawan, tenaga medis, psikolog, hingga bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan sejumlah pos komando (posko) perguruan tinggi telah aktif di wilayah terdampak maupun sekitar lokasi bencana.

Perguruan tinggi yang terpantau aktif antara lain Universitas Nusa Nipa, Universitas Muhammadiyah Maumere, STIPER Bajawa, dan Universitas Nusa Cendana (Undana).

"Relawan mahasiswa yang berada di wilayah tidak terdampak juga turut mengambil bagian dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat," kata Brian pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Tidak hanya kampus di NTT, perguruan tinggi dari daerah lain juga ikut turun tangan. Universitas Mataram mengirimkan tim tanggap darurat bersama Pemerintah Daerah NTB yang terdiri atas tenaga medis, psikolog klinis, dan personel pendukung. Tim tersebut turut membawa obat-obatan serta kebutuhan dasar untuk membantu masyarakat terdampak.

Sementara itu, tim medis dari Klinik Mu Ende dan Klinik Universitas Muhammadiyah Kupang telah berada di Mbay untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak gempa.

Dukungan juga datang dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Tim ITB Peduli NTT bersama Rumah Amal Salman telah tiba di Labuan Bajo dan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Barat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ruteng.

Tim tersebut menargetkan penyaluran bantuan hingga ke wilayah Reok, salah satu daerah yang terdampak gempa.

"Kemdiktisaintek mengapresiasi respons perguruan tinggi yang bergerak tidak hanya untuk memastikan keselamatan sivitas akademika, tetapi juga mengambil bagian dalam membantu masyarakat di wilayah terdampak," ujar Brian.

Menurut dia, proses penyaluran bantuan menghadapi tantangan karena sejumlah akses menuju wilayah terdampak masih sulit dijangkau. Karena itu, koordinasi antarpihak menjadi penting agar bantuan dapat disalurkan dengan tetap mempertimbangkan kondisi di lapangan.

61 Mahasiswa KKN Dievakuasi

Di tengah aktivitas penanganan bencana, Kemdiktisaintek juga memberikan perhatian terhadap keselamatan mahasiswa yang sedang menjalankan kegiatan akademik di wilayah terdampak.

Sebanyak 61 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang berada di Kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur dilaporkan selamat. Mereka telah dievakuasi bersama warga menuju wilayah yang lebih aman.

Perhatian serupa diberikan kepada mahasiswa yang mengikuti KKN Tematik GENTASKIN Tahun 2026.

Brian menegaskan keselamatan sivitas akademika menjadi prioritas utama pemerintah dalam menghadapi situasi pascagempa NTT.

"Prioritas kami saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh sivitas akademika dan menjaga agar penanganan berlangsung cepat serta terkoordinasi," ucap Mendiktisaintek Brian menegaskan.

Keterlibatan perguruan tinggi dalam penanganan bencana menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berperan dalam menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid