BGN Ancam Sanksi Berat Pelanggar MBG, Kepala SPPG Bisa Dipecat Tidak Hormat

Senin, 17 Agustus 2026 16:51 WIB
Kepala BGN, Sudaryono memberikan keterangan saat mengunjungi salah satu siswa korban insiden MBG yang dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan pada Minggu, 16 Agustus 2026. (IDNVoice/BGN)
Kepala BGN, Sudaryono memberikan keterangan saat mengunjungi salah satu siswa korban insiden MBG yang dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan pada Minggu, 16 Agustus 2026. (IDNVoice/BGN)

IDNVoice.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap kelalaian dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan itu disampaikan menyusul insiden keamanan pangan yang terjadi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar menyampaikan ketegasan tersebut saat mengunjungi salah satu siswa korban insiden MBG yang dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan pada Minggu, 16 Agustus 2026.

Menurutnya, pihak yang terbukti lalai akan dikenai sanksi tegas. Hukuman tidak sebatas pencopotan jabatan, tetapi dapat berujung pada pemecatan tidak dengan hormat bagi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berstatus aparatur sipil negara (ASN).

"Sanksinya yang pertama, dapurnya disuspend berat. Kemudian Kepala SPPG-nya, sanksi yang bisa saya berikan bukan hanya dicopot, tapi saya ajukan pemecatan dengan tidak hormat melalui Badan Kepegawaian Negara, status ASN-nya. Karena ini sudah menyangkut (nyawa)," tegas Mas Dar.

BGN Buka Kemungkinan Libatkan Aparat Penegak Hukum

Mas Dar juga membuka kemungkinan menyerahkan hasil investigasi kepada aparat penegak hukum apabila ditemukan dugaan pelanggaran yang perlu diproses secara hkkum.

Ia menekankan keamanan pangan MBG bukan sekadar persoalan teknis operasional dapur. Setiap tahapan menyangkut keselamatan penerima manfaat sehingga seluruh kepala dapur, petugas, dan penanggung jawab wajib menjalankan prosedur operasional standar (SOP) secara ketat.

Mas Dar bahkan meminta petugas yang merasa tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya untuk mengundurkan diri daripada mengambil risiko terhadap keselamatan penerima manfaat.

"Ini juga peringatan bagi yang lain, harus ekstra hati-hati dan kerja dengan sebaik-baiknya. Kalau enggak bisa, kau mundur. Ya. Kalau merasa enggak mampu, mundur. Jangan nyawa orang jadi permainan. Kalau enggak mampu jadi kepala dapur, kalau enggak mampu jadi chef, kalau enggak mampu jadi jadi petugas di situ, kau mundur aja. Karena nyawa seseorang enggak bisa dipertaruhkan," tegasnya lagi.

Ketegasan tersebut menjadi sinyal bahwa BGN akan memperketat pengawasan terhadap seluruh dapur MBG. Bagi pemerintah, program pemenuhan gizi harus berjalan beriringan dengan jaminan keamanan pangan agar tujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat tidak justru menimbulkan risiko bagi penerima manfaat. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid