IDNVoice.com - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengganggu layanan kesehatan dan akses transportasi di sejumlah wilayah.
Hingga Minggu (16 Agustus 2026), tercatat 21 rumah sakit dan 190 Puskesmas terdampak akibat gempa. Sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan berat sehingga berpotensi menghambat pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan penanganan medis.
Kasatgas Humas Ops Aman Nusa II Bencana Alam NTT Kombes Bayu Suseno mengatakan dari 21 rumah sakit yang terdampak, tiga di antaranya mengalami kerusakan berat, sedangkan enam rumah sakit lainnya mengalami kerusakan ringan.
"Sebanyak 21 rumah sakit terdampak, dengan tiga rumah sakit mengalami kerusakan berat dan enam lainnya rusak ringan. Dari 190 puskesmas terdampak, sebanyak 20 unit mengalami kerusakan berat," kata Bayu pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Dampak gempa juga terasa pada infrastruktur transportasi. Sedikitnya 33 titik longsor, empat titik patahan jalan, dan empat jembatan dilaporkan mengalami kerusakan.
Kerusakan tersebut membuat sejumlah jalur utama terganggu, termasuk ruas Ende–Bajawa dan Ende–Maumere. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan bencana karena akses menuju sejumlah wilayah dan fasilitas penting ikut terdampak.
"Kerusakan juga terjadi pada akses Pelabuhan Lorens Say Maumere dan SPAM Lembor Selatan. Khusus di Kabupaten Manggarai Barat, tercatat 914 bangunan mengalami kerusakan hingga Minggu dini hari," ujarnya.
Kerusakan infrastruktur tersebut membuat upaya distribusi bantuan dan mobilisasi tim penyelamat membutuhkan penanganan ekstra. Jalur darat yang terganggu juga mendorong penggunaan jalur udara untuk mempercepat pengiriman bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau.
Dalam penanganan kondisi darurat, Polri menambah kekuatan personel untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan. Sekitar 1.875 personel gabungan dikerahkan, terdiri atas unsur TNI, Polri, BPBD, dan relawan.
Selain memperkuat operasi di lapangan, dukungan melalui udara juga disiapkan. Armada helikopter diberangkatkan dari Bima menuju Labuan Bajo untuk membantu proses evakuasi medis dan distribusi bantuan.
Penggunaan helikopter diharapkan dapat mempercepat penanganan korban, terutama di wilayah yang akses jalannya terputus atau mengalami kerusakan akibat longsor, patahan jalan, maupun kerusakan jembatan.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah dan seluruh unsur penanganan bencana terus berupaya memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi sekaligus membuka kembali akses menuju wilayah-wilayah yang terisolasi. [DR]