Kemenkes Targetkan RS Terdampak Gempa NTT Kembali Layani Pasien dalam Sepekan

Minggu, 16 Agustus 2026 13:20 WIB
Pasien terdampak gempa NTT. (IDNVoice/TP-Istimewa)
Pasien terdampak gempa NTT. (IDNVoice/TP-Istimewa)

IDNVoice.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan seluruh rumah sakit umum daerah (RSUD) yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat kembali memberikan layanan dasar dalam waktu satu pekan.

Pemulihan layanan kesehatan diprioritaskan pada penanganan trauma, pelayanan ibu dan anak, serta hemodialisa bagi pasien yang membutuhkan.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan percepatan pemulihan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam penanganan pascagempa.

Untuk RSUD Nagekeo yang mengalami kerusakan berat, Kemenkes akan mengirimkan RS Mobil lengkap dengan fasilitas ruang operasi ke wilayah tersebut. Sementara RSUD Borong dan RSUD Komodo disiapkan sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien dari Nagekeo.

Tiga RS Rusak Berat

Agus menjelaskan, dari 21 rumah sakit yang tersebar di delapan kabupaten/kota di NTT, terdapat enam rumah sakit mengalami kerusakan ringan dan tiga lainnya rusak berat.

Dari sisi operasional, sebanyak 16 rumah sakit masih beroperasi penuh, empat beroperasi sebagian, dan satu rumah sakit belum dapat beroperasi.

Pemulihan juga dilakukan terhadap fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dari 190 puskesmas di NTT, sebanyak 122 masih beroperasi penuh, 49 beroperasi sebagian, dan 19 belum beroperasi.

Dari sisi tingkat kerusakan, 11 puskesmas mengalami kerusakan ringan, 37 rusak sedang, dan 20 rusak berat.

"⁠Diharapkan dalam dua minggu seluruh puskesmas yang rusak sudah beroperasi minimal kembali, fokus ke layanan ibu hamil, melahirkan, dan imunisasi," kata Agus pada Minggu, 16 Agustus 2026.

HEOC Disiapkan Jadi Pusat Informasi Kesehatan

Selain memperbaiki fasilitas kesehatan, Kemenkes tengah memfinalisasi struktur Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk memperkuat koordinasi penanganan dampak gempa.

HEOC nantinya menjadi pusat pengumpulan informasi mengenai kondisi kesehatan, fasilitas kesehatan, alat kesehatan, hingga kebutuhan obat-obatan di wilayah terdampak.

"Identifikasi detail masalah kesehatan, faskes, alkes, kebutuhan obat-obatan, akan diselesaikan tim HEOC besok agar bisa dipakai sebagai acuan tim relawan; datang ke mana, butuhnya apa, kontaknya siapa," kata Agus.

Untuk mendukung layanan kesehatan darurat, Kemenkes juga menyiapkan sejumlah bantuan medis, terdiri atas delapan paket obat-obatan dasar, lima paket emergency kit, 1.000 sarung tangan steril, 20 ribu sarung tangan non-steril, serta 20 ribu masker bedah medis.

Selain itu, disiapkan 10 unit oksigen konsentrator dan dua tenda pos kesehatan.

"Delapan tenda disiagakan apabila dibutuhkan EMT tipe 1 fix," katanya.

Gempa Picu Peringatan Dini Tsunami

Gempa bumi yang mengguncang NTT terjadi pada Sabtu (15 Agustus 2026) sekitar pukul 04.58 WIB dengan kekuatan magnitudo 7,7.

Pusat gempa berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian mengakhiri peringatan tersebut pada pukul 09.00 WITA setelah tidak terpantau adanya tsunami.

Di tengah proses pemulihan, Kemenkes menargetkan layanan dasar rumah sakit dapat kembali berjalan dalam sepekan, sementara seluruh puskesmas yang terdampak ditargetkan kembali beroperasi maksimal dalam dua minggu. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid