Gempa NTT, 14 Orang Meninggal dan 2.000 Warga Mengungsi

Sabtu, 15 Agustus 2026 13:45 WIB
Gempa telah merusak puluhan bangunan di beberapa daerah di Flores seperti Maumere dan Ruteng dan Labuan Bajo. (IDNVoice/Basarnas)
Gempa telah merusak puluhan bangunan di beberapa daerah di Flores seperti Maumere dan Ruteng dan Labuan Bajo. (IDNVoice/Basarnas)

IDNVoice.com - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menimbulkan dampak serius. Hingga Sabtu (15 Agustus 2026) pukul 12.30 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan 11 orang luka ringan.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan data korban masih terus diperbarui karena petugas masih melakukan pendataan dan verifikasi di lapangan.

"Berdasarkan pemutakhiran data hingga pukul 12.30 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat dan 11 orang luka ringan. Data tersebut masih dalam proses pendataan, verifikasi dan validasi di lapangan," kata Berton di Jakarta pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Korban meninggal sementara tercatat tersebar di tiga kabupaten. Kabupaten Sikka mencatat tiga korban meninggal, Kabupaten Manggarai enam orang, sedangkan Kabupaten Manggarai Timur lima orang.

Sementara itu, korban luka dilaporkan berada di Kabupaten Sikka, Nagekeo, Manggarai, dan Manggarai Timur.

Sekitar 2.000 Warga Mengungsi

Gempa tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memaksa warga meninggalkan rumah. BNPB mencatat sekitar lima kepala keluarga terdampak, sementara sekitar 2.000 warga mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri.

"Berdasarkan pemutakhiran data hingga pukul 12.30 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat dan 11 orang luka ringan. Data tersebut masih dalam proses pendataan, verifikasi dan validasi di lapangan," kata Berton.

Untuk kondisi pengungsian, sebagian besar warga memilih menyelamatkan diri setelah merasakan guncangan kuat dan menerima peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama.

"Sebagian besar warga melakukan evakuasi menyusul guncangan kuat dan peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama," ujarnya.

Puluhan Rumah Rusak

Dari sisi kerusakan bangunan, BNPB sementara mencatat 54 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan.

Kerusakan juga melanda fasilitas publik. Tercatat lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, serta enam kantor pemerintahan mengalami kerusakan.

Kabupaten Manggarai menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak cukup signifikan. Di wilayah tersebut, sebanyak 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan sembilan rumah rusak ringan.

Selain rumah warga, lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan di Manggarai juga mengalami kerusakan.

Sementara di Kabupaten Manggarai Timur, BNPB mencatat 23 rumah rusak berat.

Di Kabupaten Nagekeo, dampak sementara meliputi dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan dua rumah rusak ringan. Dua fasilitas ibadah juga mengalami kerusakan ringan, sedangkan lima kantor pemerintahan terdampak.

Listrik Padam, Lalu Lintas Macet

Situasi pascagempa masih dalam penanganan. Di sejumlah wilayah terdampak, arus lalu lintas dilaporkan mengalami kemacetan. Selain itu, aliran listrik masih padam.

BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait masih melakukan pendataan serta penanganan terhadap warga terdampak. Data korban maupun kerusakan juga masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.

Besarnya dampak gempa membuat proses evakuasi, penanganan korban, pendataan kerusakan, serta pemulihan fasilitas publik menjadi prioritas pemerintah di wilayah terdampak. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid