IDNVoice.com - Wakil Presiden Ke-13 RI Ma`ruf Amin mendorong Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat peran dalam membangun umat sekaligus memakmurkan negara. Penguatan tersebut, menurut dia, perlu dilakukan melalui pendidikan, kemandirian ekonomi, kepemimpinan, serta penguatan kerukunan bangsa.
Pesan itu disampaikan Ma`ruf saat menghadiri Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi NU di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu. Kegiatan tersebut juga diikuti secara daring.
Ma`ruf menegaskan NU bukan sekadar wadah berkumpul bagi warga Nahdliyin. Lebih dari itu, NU memiliki tanggung jawab sosial untuk memperjuangkan keadilan, menjaga keamanan, serta mendorong berbagai perbaikan dalam kehidupan masyarakat.
"Jadi, NU itu adalah organisasi yang memperjuangkan keadilan, menebarkan keamanan, wa islahin dan melakukan berbagai perbaikan, wa ihsanin dan membawa kebaikan-kebaikannya," kata Ma`ruf pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Dalam konteks taqwiyatul ummah atau penguatan umat, Ma`ruf menilai NU perlu memastikan masyarakat memiliki pemahaman keagamaan yang benar sekaligus mendapatkan pemberdayaan secara nyata.
Salah satu kuncinya, kata dia, adalah membangun sistem pendidikan yang mampu mempertemukan kekuatan ilmu agama dengan penguasaan sains dan teknologi.
Ia menyebut konsep tersebut sebagai majma`ul bahrain, atau pertemuan dua lautan. Pendidikan keagamaan diperlukan untuk menjaga umat, sementara penguasaan sains dan teknologi dibutuhkan untuk membangun kehidupan dan peradaban.
"Pendidikan yang harus kita bangun sekarang itu ada dua, yaitu menyiapkan orang-orang fakir, orang ulama untuk menjaga. Tadi, himayatul umat. Supaya tetap di dalam paham yang benar, dan kemudian, yang akan membangun bumi. Ya, yang mengawasi sains dan teknologi," ujar Ma`ruf.
Menurut dia, perpaduan kedua bidang tersebut penting agar generasi NU tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.
Selain pendidikan, Ma`ruf menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi sebagai bagian dari upaya memakmurkan negara.
Ia mengingatkan bahwa gerakan ekonomi warga NU memiliki akar sejarah yang panjang. Salah satunya melalui Nahdlatut Tujjar, gerakan ekonomi yang dirintis para ulama sebelum NU berdiri.
Semangat tersebut dinilai relevan untuk dikembangkan kembali agar warga NU memiliki kekuatan ekonomi yang lebih mandiri dan mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Kerukunan Jadi Kekuatan Bangsa
Ia menawarkan empat bingkai yang dapat digunakan untuk memperkuat kerukunan bangsa, yakni politis, yuridis, sosiologis, dan teologis.
Bingkai politis diwujudkan melalui komitmen terhadap konsensus nasional. Sementara bingkai yuridis memastikan aturan dan kebijakan tidak diskriminatif.
Adapun bingkai sosiologis mendorong pemanfaatan kearifan lokal untuk menyelesaikan konflik. Sedangkan bingkai teologis diarahkan untuk membangun narasi kerukunan antarumat beragama.
"Kita di perintah takwa, semua agama bertakwa, tetapi bagaimana menggunakan narasi kerukunan. Bukan narasi konflik," ujar dia.
Ma`ruf juga mendorong peningkatan kualitas kepemimpinan di lingkungan NU melalui al-ishlah, yakni upaya mendamaikan kelompok yang berkonflik sekaligus memperbaiki arah organisasi.
Menurut dia, dinamika organisasi harus tetap berlandaskan Fikrah Nahdliyyah yang moderat dan dinamis. Warga Nahdliyin juga perlu memahami alasan serta landasan dalam berorganisasi sehingga tidak sekadar mengikuti arus.
"Ke depan ini kita harus membangun ber-NU ala bashirah itu kata Syekh Nawawi al-Bantani, ala hujjatin wadihatin ghairi amya. Atas dasar alasan yang kuat. Kenapa dia ber-NU? Alasannya kuat. Landasannya kuat," kata Ma`ruf.
Ia berharap penguatan pendidikan, ekonomi, kerukunan, dan kepemimpinan tersebut dapat membuat NU semakin mampu menjalankan perannya dalam memperkuat umat sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. [DR]