Libatkan 1.000 Taruna Akmil Dampingi Siswa Sekolah Rakyat, Kemensos: Pembentukan Karakter bukan Latihan Militer

Rabu, 01 Juli 2026 13:35 WIB
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengenakan seragam Sekolah Rakyat. (IDNVoice/Instagram-gusipul_id)
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengenakan seragam Sekolah Rakyat. (IDNVoice/Instagram-gusipul_id)

IDNVoice.com - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menegaskan pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) dalam program Sekolah Rakyat bukan untuk memberikan pelatihan militer kepada para siswa. Kehadiran taruna Akmil hanya bertujuan mendampingi peserta didik dalam membangun karakter, kemandirian, dan kedisiplinan selama menjalani pendidikan berasrama.

Ditemui usai seminar nasional di Aula Kampus Universitas Nasional, Jakarta, Selasa (30 Juni 2026), Saifullah menjelaskan bahwa para taruna diharapkan menjadi teladan bagi siswa Sekolah Rakyat dalam menjalani kehidupan sehari-hari di asrama.

"Harapan kami taruna-taruna Akmil itu bisa memberikan contoh kepada siswa-siswa Sekolah Rakyat yang juga mereka sekolahnya berasrama gitu. Bagaimana bangun pagi, membersihkan tempat tidur, membersihkan peralatan-peralatan atau perlengkapan-perlengkapan yang mereka punya gitu ya. Bagaimana kemudian mereka memakai sepatu, memakai seragam, bukan hal lain," kata Saifullah.

Ia menjelaskan, pelibatan taruna Akmil merupakan inisiatif Kementerian Sosial yang mengajukan permohonan bantuan kepada TNI untuk mengirimkan sekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II. Mereka dijadwalkan mendampingi siswa di 178 titik asrama Sekolah Rakyat pada 3–8 Agustus 2026.

Menanggapi kekhawatiran publik mengenai kemungkinan adanya pelatihan fisik bergaya militer, Saifullah memastikan kegiatan tersebut tidak akan memuat unsur latihan militer sebagaimana yang berkembang di masyarakat.

"Tidak ada, di sana (Sekolah Rakyat) tidak ada. Tentu tidak secara khusus untuk itu," tegasnya.

Menurut Saifullah, program pendampingan itu hanya berlangsung selama lima hari. Pola pelaksanaannya dianalogikan seperti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), di mana para taruna berbagi pengalaman dan memberikan pembelajaran praktis kepada para siswa.

Ia mengatakan, materi yang diberikan terbatas pada latihan baris-berbaris dasar yang ringan, pembiasaan disiplin, serta tata cara mempersiapkan diri secara rapi dan tepat waktu sebelum mengikuti kegiatan belajar di kelas.

Selain itu, Kemensos juga memastikan pendekatan yang digunakan mengedepankan empati dan bersifat persuasif tanpa unsur paksaan. Bahkan, para siswa tetap diperbolehkan pulang secara berkala sebagai bagian dari proses adaptasi.

Saifullah menilai kebijakan tersebut mempertimbangkan latar belakang serta kondisi psikologis siswa Sekolah Rakyat yang beragam. Menurutnya, bulan pertama tinggal di asrama merupakan masa adaptasi yang membutuhkan pendampingan agar anak-anak merasa nyaman.

"Jadi ini penting sekali, menurut saya ini bagian dari pembelajaran yang bisa dijadikan contoh oleh siswa-siswa Sekolah Rakyat ya," ungkapnya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid