IDNVoice.com - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin melepas sekitar 175 lulusan SMA dan MA Unggulan Bertaraf Internasional serta SMK Unggulan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat, yang akan melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi di luar negeri, mulai dari China hingga Tunisia.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Imin berpesan agar para lulusan pesantren mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan dengan membekali diri melalui tiga hal utama.
"Santri harus memenuhi tiga syarat. Pertama, memiliki skill atau kemampuan. Kedua, memiliki integritas. Ketiga, taat asas terhadap ilmu pengetahuan," kata Cak Imin dalam keterangan pada Senin, 29 Juni 2026.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki era bonus demografi yang akan menjadi penentu arah pembangunan bangsa dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, menurutnya, generasi muda, termasuk lulusan Pesantren BIMA, akan memegang peran penting pada 2030.
"Kalau sekarang kalian lulus, berarti pada 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA pada 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian," ujarnya.
Cak Imin optimistis lulusan pesantren, termasuk dari BIMA, mampu menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas.
Sementara itu, Pengasuh Pesantren BIMA, Imam Jazuli, menjelaskan bahwa selain melanjutkan studi ke China dan Tunisia, sejumlah santri juga diterima untuk melanjutkan pendidikan di Rusia serta beberapa negara di kawasan Timur Tengah.
Di dalam negeri, lanjut Imam, sebanyak 99 santri berhasil diterima di berbagai perguruan tinggi negeri dengan mayoritas memilih program studi umum yang disesuaikan dengan kebutuhan strategis bangsa.
Menurutnya, pesantren saat ini memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mencetak santri yang saleh. Pesantren juga harus melahirkan generasi yang memiliki kompetensi dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
"Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, melainkan juga mencetak santri yang bermanfaat, membangun negeri, dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara," kata Imam Jazuli.
Keberangkatan ratusan lulusan Pesantren BIMA ke berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri ini menjadi bukti semakin terbukanya akses pendidikan global bagi santri, sekaligus memperkuat peran pesantren dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menjawab tantangan pembangunan Indonesia di masa depan. [DR]