Harganas ke-33, Mendukbangga: Jangan Biarkan Meja Makan Sunyi karena Gawai

Senin, 29 Juni 2026 11:42 WIB
Ilustrasi: Anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing saat makan bersama. (IDNVoice/AI-ChatGPT)
Ilustrasi: Anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing saat makan bersama. (IDNVoice/AI-ChatGPT)

IDNVoice.com - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengajak seluruh keluarga Indonesia menghidupkan kembali kebiasaan berdialog di meja makan dan tidak membiarkan teknologi mengikis kedekatan antaranggota keluarga.

Dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Yogyakarta, Senin, Wihaji menegaskan pentingnya peran ayah dalam membangun keluarga yang hangat dan hadir secara emosional, bukan hanya secara fisik.

"Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam keadaan fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik saja tanpa psikologis. Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar. Peluk anak-anakmu dan ajak mereka berdialog, batasi penggunaannya pada hal-hal yang produktif," kata Wihaji.

Menurut dia, derasnya perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru bagi ketahanan keluarga. Karena itu, momentum Harganas menjadi saat yang tepat bagi setiap keluarga untuk melakukan refleksi dan introspeksi terhadap kualitas hubungan di dalam rumah.

"Sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernaung yang aman? Panggung peradaban modern kini bergerak semakin cepat, oleh karena itu perlu teliti karena kini kita dipenuhi ketidakpastian dan kerumitan, serta kebingungan arah. Disrupsi teknologi digital datang di luar keluarga tanpa permisi," ujarnya.

Wihaji menekankan bahwa pembangunan keluarga berkualitas harus dimulai sejak awal kehidupan melalui transformasi kualitas sumber daya manusia yang bertumpu pada tiga pilar utama.

Pilar pertama adalah kesehatan dengan fokus menuntaskan stunting melalui penguatan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan.

"Tiga pilar, yang pertama, kesehatan untuk menuntaskan stunting. Anak yang terhambat otaknya akan sulit berkembang. Oleh karena itu perlu penguatan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan," paparnya.

Pilar kedua adalah pendidikan karakter dengan menjadikan rumah sebagai ruang yang aman dan nyaman bagi anak di tengah pesatnya disrupsi teknologi.

"Transformasi kedua yakni pendidikan karakter, di mana keluarga perlu menjadikan rumah sebagai ruang aman di tengah disrupsi teknologi," katanya.

Sementara pilar ketiga adalah memperkuat ketahanan mental keluarga sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.

"Ketiga, ketahanan mental, karena keluarga merupakan hulu dari setiap kebijakan nasional sebagai pelabuhan nasional yang stabil," ucap Wihaji.

Hari Keluarga Nasional diperingati setiap 29 Juni sebagai pengingat momentum kembalinya para pejuang kemerdekaan kepada keluarga pada 29 Juni 1949, sekaligus tonggak dimulainya Gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional pada 29 Juni 1970.

Peringatan Harganas pertama kali digelar di Lampung pada 1993 atas inisiatif Kepala BKKBN periode 1983–1998 Haryono Suyono. Sejak saat itu, Harganas menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid