Program MBG Harus Perkuat Ekosistem Pencegahan Stunting, Kemendukbangga: Bukan Bangun Sistem Baru

Senin, 29 Juni 2026 10:24 WIB
Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN memberikan MBG 3B kepada penerima manfaat di Kembang Basen, DI Yogyakarta pada Minggu, 28 Juni 2026. (ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)
Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN memberikan MBG 3B kepada penerima manfaat di Kembang Basen, DI Yogyakarta pada Minggu, 28 Juni 2026. (ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)

IDNVoice.com - Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga)/Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu memperkuat ekosistem pencegahan stunting yang selama ini telah berjalan di daerah, bukan membangun sistem baru dalam penanganan gagal tumbuh pada balita.

Menurut Budi, berbagai unsur pelayanan seperti posyandu, Tim Pendamping Keluarga (TPK), bidan, puskesmas, hingga tokoh masyarakat telah membentuk ekosistem yang terbukti mendukung upaya pencegahan stunting.

"Keberadaan MBG sebenarnya bisa menyempurnakan ekosistem tersebut. Mungkin yang perlu dioptimalkan adalah dari sisi menu, tata kelola, manajemen waktu, maupun pola komunikasi antarsektor," kata Budi dalam diskusi bersama Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di DI Yogyakarta pada Minggu, 28 Juni 2026.

Ia menjelaskan, implementasi MBG seharusnya menjadi pelengkap yang memperkuat layanan yang sudah ada, terutama melalui penyempurnaan kualitas menu, pengelolaan program, pengaturan waktu distribusi, serta koordinasi antarsektor.

Budi juga menyinggung insentif bagi kader TPK. Menurut dia, insentif bukanlah faktor utama yang mendorong kinerja para kader karena selama ini mereka bekerja secara sukarela dengan semangat gotong royong dalam mendampingi keluarga.

"Seperti yang mungkin teman-teman sudah dengarkan, mereka bekerja secara sukarela dengan motivasi saling tolong-menolong dan menjalankan tugas sebagai anggota TPK, sehingga insentif itu lebih kepada memberikan stimulus tambahan. Kalau saat ini memang dari sisi anggaran, karena keterbatasan, mungkin belum banyak perubahan terkait alokasi biaya distribusi tersebut," paparnya.

Lebih lanjut, Budi menilai ekosistem pelayanan yang telah berjalan sebelum hadirnya Program MBG terbukti mampu menjalankan distribusi makanan dengan baik tanpa menimbulkan insiden yang membahayakan kualitas pangan.

Karena itu, ia berharap implementasi MBG, khususnya bagi kelompok sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B), dapat semakin memperkuat upaya pencegahan stunting di berbagai daerah.

"Sinergi lintas sektor dalam penanganan stunting. Selama ini, praktik baik (best practice) pelayanan (bagi ibu hamil hingga balita) di daerah sudah terbukti berjalan efektif, oleh karena itu, kita perlu memberikan arah evaluasi implementasi MBG tanpa menghilangkan peran sistem pelayanan yang sudah ada," ujar Budi.

Menurut dia, penguatan kolaborasi antarlembaga dan optimalisasi sistem yang telah terbukti efektif menjadi kunci agar Program Makan Bergizi Gratis dapat memberikan manfaat maksimal dalam menekan angka stunting di Indonesia. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid