Ormas Dinilai Berperan Strategis Tingkatkan Literasi Gizi untuk Cegah Stunting

Senin, 29 Juni 2026 10:22 WIB
Ilustrasi: Ibu-ibu Muslimat NU dan Ibu-ibu Aisyiyah Muhammadiyah. (IDNVoice/Kolase)
Ilustrasi: Ibu-ibu Muslimat NU dan Ibu-ibu Aisyiyah Muhammadiyah. (IDNVoice/Kolase)

IDNVoice.com - Keterlibatan komunitas dan organisasi kemasyarakatan (ormas) dinilai menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan literasi gizi masyarakat guna mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia. Kedekatan ormas dengan masyarakat hingga tingkat akar rumput dinilai membuat pesan-pesan edukasi gizi lebih mudah diterima dan diterapkan.

Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Nadia Yovanni mengatakan ormas memiliki peran besar dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi, asalkan para kader dan penggeraknya dibekali pemahaman yang memadai.

"Peran organisasi masyarakat itu besar untuk mengedukasi tentang gizi pada masyarakat. Meski demikian keberhasilan edukasi gizi sangat bergantung pada kapasitas para penggeraknya," kata Nadia dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Senin, 29 Juni 2026.

Menurut Nadia, organisasi berbasis masyarakat memiliki posisi strategis dalam mendukung program percepatan penurunan stunting karena mampu menjangkau lingkungan sosial secara langsung. Oleh karena itu, kader dan anggota organisasi yang mendampingi masyarakat perlu memiliki pemahaman gizi yang benar sebelum memberikan edukasi kepada warga.

Ia menegaskan, upaya memperbaiki status gizi anak tidak cukup hanya melalui penyaluran bantuan pangan. Peningkatan literasi mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang juga menjadi faktor penting agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara berkelanjutan.

Nadia menjelaskan keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk kebiasaan makan sehat karena menjadi agen sosialisasi pertama bagi anak.

"Jika keluarganya tidak punya literasi gizi yang bagus, ya yang penting hidup. Dia tidak peduli apakah di makanan itu perlu ada protein, perlu ada karbohidrat, dan bagaimana komposisinya," ujarnya.

Ia juga menyoroti masih adanya kesalahpahaman di masyarakat mengenai susu kental manis yang kerap dianggap sebagai pengganti susu untuk anak. Menurut Nadia, edukasi mengenai hal tersebut perlu terus diperkuat.

Ia menjelaskan susu kental manis didominasi kandungan gula dengan kadar protein yang rendah sehingga tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak pada masa pertumbuhan.

Dalam praktiknya, sejumlah organisasi perempuan telah mengambil peran aktif dalam meningkatkan literasi gizi masyarakat. PP Aisyiyah dan Muslimat NU, misalnya, menggerakkan kader di berbagai daerah untuk mendampingi keluarga sekaligus memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi yang tepat hingga ke tingkat akar rumput.

Ketua Majelis Kesehatan Pengurus Pusat Aisyiyah (Makes PPA) Warsiti mengatakan organisasinya terus memberikan perhatian terhadap isu gizi agar pemenuhan gizi menjadi agenda bersama dalam meningkatkan kesehatan keluarga.

"Aisyiyah bersama kader-kader di seluruh Indonesia bekerja sampai ke akar rumput, memperkuat peran keluarga, komunitas dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci," kata Warsiti. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid