IDNVoice.com - Asap kebakaran memang telah padam, namun perjuangan ribuan warga terdampak kebakaran di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat, masih jauh dari selesai. Di tengah kondisi tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, turun langsung meninjau lokasi pengungsian untuk memastikan kebutuhan perempuan dan anak tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Kunjungan yang dilakukan pada Kamis, 4 Juni 2026 itu menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap kelompok rentan yang paling terdampak pascakebakaran yang menghanguskan ratusan bangunan semipermanen dan memaksa ribuan warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
"Atas nama Kemen PPPA, saya menyampaikan rasa prihatin yang mendalam kepada seluruh warga yang terdampak dari musibah kebakaran. Dalam situasi bencana seperti ini, perempuan dan anak merupakan kelompok yang sangat rentan sehingga negara harus hadir memastikan mereka mendapatkan perlindungan, rasa aman, serta layanan yang dibutuhkan," ujar Arifah.
Di sela peninjauan, Menteri PPPA menyempatkan diri berbincang dengan para ibu dan anak-anak yang tinggal sementara di tenda pengungsian. Dari dialog tersebut terungkap bahwa kegiatan belajar mengajar masih berlangsung, meski banyak anak kehilangan perlengkapan sekolah akibat kebakaran.
Seragam, tas sekolah, buku pelajaran hingga alat tulis menjadi barang-barang yang ikut dilalap api. Kondisi ini, menurut Arifah, tidak boleh menghambat hak anak untuk tetap memperoleh pendidikan.
"Kami bersyukur proses belajar mengajar tetap berjalan. Namun banyak anak kehilangan perlengkapan sekolah. Kebutuhan ini harus menjadi perhatian bersama agar hak anak untuk memperoleh pendidikan tetap terpenuhi," katanya.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal dan harta benda, anak-anak korban kebakaran juga berpotensi mengalami tekanan psikologis. Karena itu, Arifah menekankan pentingnya dukungan keluarga, lingkungan, dan aktivitas ramah anak selama masa pengungsian.
"Anak-anak yang mengalami bencana dapat mengalami tekanan psikologis. Dukungan keluarga, lingkungan, serta kegiatan yang ramah anak sangat penting untuk membantu mereka pulih dan kembali merasa aman," ujar Afifah dalam rilis resminya pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Dalam kesempatan itu, Arifah juga mengingatkan para orang tua untuk tetap mendampingi anak saat menggunakan gawai di pengungsian. Menurutnya, meski gawai dapat menjadi sarana hiburan, pengawasan tetap diperlukan agar anak terhindar dari berbagai risiko di ruang digital.
Sementara itu, Camat Kemayoran, Dicky Suherlan, menjelaskan bahwa pemerintah bersama berbagai pihak terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Saat ini, sejumlah titik pengungsian telah disiapkan dengan posko terbesar berada di belakang Polsek Kemayoran.
Di lokasi tersebut tersedia dapur umum, tenda pengungsian, fasilitas sanitasi, hingga layanan kesehatan yang melibatkan berbagai unsur, termasuk BNPB, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Baznas, aparat keamanan, dan relawan kemanusiaan.
"Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan pelayanan yang layak, mulai dari kebutuhan pangan, kesehatan, tempat tinggal sementara, hingga dukungan bagi anak-anak agar kegiatan belajar mereka tetap berjalan," kata Dicky.
Ia menambahkan, jajaran kepolisian juga menempatkan personel, termasuk polisi wanita (Polwan), untuk memberikan pendampingan kepada perempuan dan anak selama berada di pengungsian.
Kementerian PPPA memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan perempuan dan anak terdampak kebakaran mendapatkan perlindungan serta dukungan yang dibutuhkan hingga proses pemulihan selesai. [DR]