Dorong Koperasi Jadi Motor Ekonomi Syariah, Menkop: KDKMP Disiapkan Perkuat Desa

Selasa, 23 Juni 2026 10:29 WIB
Menteri Koperasi (Menkop) dalam acara Simposium yang digelar Menara Syariah dan Universitas Utara Malaysia (UUM) dengan tema
Menteri Koperasi (Menkop) dalam acara Simposium yang digelar Menara Syariah dan Universitas Utara Malaysia (UUM) dengan tema "Reimagining Takaful for Sustainable World" di Menara Syariah PIK 2 pada Senin, 22 Juni 2026. (IDNVoice/Humas Kemenkop)

IDNVoice.com - Menteri Koperasi (Menkop) sekaligus Ketua Harian Pengurus Pusat (PP) Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Ferry Juliantono mendorong penguatan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia melalui sinergi antara industri takaful (asuransi syariah), koperasi, serta kerja sama internasional.

Menurut Ferry, pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya dilihat dari nilai transaksi, tetapi juga harus memberikan dampak nyata terhadap kemaslahatan, keadilan, dan keberlanjutan pembangunan ekonomi masyarakat.

Hal itu disampaikan Ferry dalam simposium bertema Reimagining Takaful for Sustainable World yang digelar Menara Syariah dan Universiti Utara Malaysia (UUM) di Menara Syariah PIK 2 pada Senin, 22 Juni 2026.

"Koperasi bisa terlibat dalam kegiatan pengembangan takaful baik ini. Sebab di Indonesia memiliki kekuatan pada basis ekonomi rakyat yang besar, jaringan komunitas yang luas, serta gerakan koperasi yang tumbuh hingga ke tingkat desa," ujar Ferry.

Ferry menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi syariah, salah satunya melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang dapat menjadi instrumen untuk memperluas akses ekonomi syariah hingga ke masyarakat desa.

Ia menjelaskan, nilai-nilai koperasi seperti gotong royong, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan bersama memiliki keselarasan kuat dengan prinsip ekonomi syariah.

"Nilai-nilai yang menjadi fondasi koperasi yaitu gotong royong, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan bersama, memiliki keselarasan yang sangat kuat dengan prinsip-prinsip ekonomi syariah," katanya.

Menurut Ferry, industri takaful memiliki peran penting karena bukan sekadar produk keuangan, melainkan juga mencerminkan nilai ta’awun atau saling membantu.

"Keberhasilan takaful harus diukur dari sejauh mana ia mampu menghadirkan kesejahteraan, memperkuat ketahanan sosial, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat," tegasnya.

Ferry mengungkapkan, potensi ekonomi syariah global sangat besar. Saat ini konsumsi masyarakat muslim dunia pada sektor ekonomi syariah telah mencapai lebih dari USD2 triliun per tahun dan diproyeksikan terus meningkat.

Dengan jumlah penduduk Muslim sekitar 240 juta jiwa, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan industri keuangan syariah, termasuk takaful. Kehadiran KDKMP dinilai dapat mempercepat pengembangan ekonomi syariah hingga ke tingkat akar rumput.

"Oleh karena itu kami memohon dukungan dari gerakan ekonomi syariah dan stakeholder terkait lainnya agar upaya ini dapat mendorong perubahan keadaan masyarakat di desa agar lebih sejahtera," ujar Ferry.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Utama Menara Syariah Harianto Solichin berharap kerja sama antara Menara Syariah, UUM, dan MES dapat diwujudkan dalam langkah konkret untuk memperkuat industri keuangan syariah Indonesia dan Malaysia.

Sementara itu, Dekan Islamic Business School UUM Selamah Maamor menyampaikan bahwa kolaborasi pengembangan ekonomi syariah kedua negara telah digagas sejak 2024 dan kini semakin diperkuat dengan keterlibatan MES.

"Kami dari Malaysia akan bersama dengan industri di Indonesia untuk memastikan bahwa industri asuransi syariah dan ekonomi bisa terwujud lebih baik dan lebih maju," katanya.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan dua Nota Kesepahaman (MoU) antara Menara Syariah dengan UUM serta Menara Syariah dengan MES terkait pengembangan ekosistem industri keuangan syariah dan takaful di Indonesia dan Malaysia. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid