AI Harus Berdampak ke Rakyat, Digitalisasi Bansos Siap Jangkau 50 Juta Penerima

Kamis, 18 Juni 2026 20:11 WIB
Menkomdigi Meutya Hafid memberikan keynote speech dalam acara Indonesia Summit 2026 by IDN Times di The Tribrata, Jakarta Selatan pada Rabu, 17 Juni 2026. (IDNVoice/Komdigi)
Menkomdigi Meutya Hafid memberikan keynote speech dalam acara Indonesia Summit 2026 by IDN Times di The Tribrata, Jakarta Selatan pada Rabu, 17 Juni 2026. (IDNVoice/Komdigi)

IDNVoice.com - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia tidak boleh hanya menjadi simbol kemajuan teknologi, tetapi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penguatan ekonomi riil dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Salah satu langkah yang kini menjadi prioritas pemerintah adalah digitalisasi bantuan sosial (bansos) berbasis AI serta penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Dalam Indonesia Summit 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (17 Juni 026), Meutya mengungkapkan program digitalisasi bansos tersebut akan menjangkau sekitar 18 juta keluarga penerima manfaat atau setara dengan sekitar 50 juta penerima bantuan di seluruh Indonesia.

Ia mengatakan pemerintah telah melakukan uji coba program tersebut di Kabupaten Banyuwangi dan hasilnya menunjukkan perkembangan yang positif. Berbekal pengalaman itu, pemerintah kini bersiap memperluas implementasi ke berbagai daerah.

"Kalau program ini berjalan sesuai rencana, maka ini akan menjadi salah satu program digital inclusion terbesar di kawasan," ujarnya.

Menurut Meutya, penggunaan AI memungkinkan pemerintah mengelola data penerima bantuan sosial secara lebih akurat dan terintegrasi. Teknologi tersebut juga dinilai mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan karena proses verifikasi dan pemutakhiran data dapat dilakukan lebih cepat serta tepat sasaran.

"AI membantu pemerintah mengelola dan menganalisis data dengan lebih baik sehingga proses verifikasi, pembaruan data penerima, hingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara lebih akurat," jelasnya.

Selain untuk memperkuat layanan publik, Meutya menilai AI juga memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan UMKM. Dengan pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas, pelaku usaha kecil dapat meningkatkan efisiensi usaha, memperluas akses pasar, dan memperbesar peluang untuk menembus pasar regional.

Menurut dia, transformasi digital yang didukung AI akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai 360 miliar dolar AS pada 2030.

Proyeksi tersebut ditopang oleh pesatnya pertumbuhan sektor e-commerce, tingginya jumlah pengguna internet, serta kontribusi UMKM yang terus menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi nasional.

Meski demikian, Meutya menegaskan keberhasilan transformasi digital tidak cukup diukur dari besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan. Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan manfaat teknologi benar-benar dirasakan masyarakat secara luas.

"Angka-angka pertumbuhan ekonomi digital harus tercermin dan berdampak bagi masyarakat. Teknologi harus menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat UMKM, dan memastikan transformasi digital benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh Indonesia," pungkas Meutya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid