Tak Berwarna dan Tak Berbau, Dokter Ungkap Bahaya Karbon Monoksida bagi Tubuh

Senin, 19 Oktober 2026 10:41 WIB
 Seorang anak bersepeda di Jalan Orang Kayo Hitam yang diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Simpang, Berbak, Tanjung Jabung Timur, Jambi pada Jumat, 16 Oktober 2026. (IDNVoice/Antara Foto)
Seorang anak bersepeda di Jalan Orang Kayo Hitam yang diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Simpang, Berbak, Tanjung Jabung Timur, Jambi pada Jumat, 16 Oktober 2026. (IDNVoice/Antara Foto)

IDNVoice.com – Karbon monoksida menjadi salah satu gas berbahaya yang patut diwaspadai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak berwarna dan tidak berbau, gas ini sulit dikenali tanpa alat khusus, padahal paparannya dapat mengganggu pasokan oksigen dalam tubuh dan membahayakan kesehatan manusia.

Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Paru Persahabatan, Agus Dwi Susanto, menjelaskan bahwa karbon monoksida merupakan gas yang memiliki sifat asfiksian, yakni dapat menyebabkan seseorang mengalami kekurangan oksigen ketika terpapar dalam kondisi tertentu.

Gas tersebut dapat dihasilkan dari berbagai aktivitas pembakaran yang kerap dijumpai masyarakat, mulai dari emisi kendaraan bermotor, asap rokok, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan.

“Karbon monoksida ini adalah gas yang memiliki sifat asfiksian, gas ini tidak berwarna, tidak berbau, umumnya gas ini produk dari hasil pembakaran,” katanya dikutip dari RRI pada Senin, 19 Oktober 2026.

Agus menjelaskan, salah satu sumber karbon monoksida yang dekat dengan aktivitas masyarakat adalah kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Proses pembakaran bahan bakar di dalam mesin dapat menghasilkan gas karbon monoksida yang kemudian dilepaskan bersama emisi kendaraan.

Baik sepeda motor maupun mobil berpotensi menghasilkan gas tersebut sehingga emisinya perlu menjadi perhatian, terutama di kawasan dengan aktivitas lalu lintas yang padat.

Selain kendaraan bermotor, pembakaran rokok juga menghasilkan karbon monoksida. Gas yang dilepaskan melalui asap rokok dapat terhirup oleh perokok maupun orang lain yang berada di sekitarnya.

"Rokok yang terbakar juga menghasilkan karbon monoksida. Begitu pula sampah-sampah yang dibakar dan asap dari kebakaran hutan," ujarnya.

Pembakaran sampah secara terbuka turut menjadi sumber paparan yang perlu diwaspadai. Selain menimbulkan pencemaran udara, aktivitas tersebut menghasilkan asap yang dapat menyebar ke lingkungan sekitar dan berpotensi terhirup oleh masyarakat.

Hal serupa juga dapat terjadi pada kebakaran hutan. Proses pembakaran vegetasi menghasilkan asap yang berpotensi membawa karbon monoksida, terutama ketika api masih menyala dan asap menyebar hingga ke kawasan permukiman.

Salah satu hal yang membuat karbon monoksida berbahaya adalah karakteristiknya yang tidak memiliki warna maupun bau. Berbeda dengan asap yang terlihat atau zat berbau menyengat, keberadaan gas ini tidak dapat dipastikan hanya melalui indra manusia.

Akibatnya, seseorang berpotensi menghirup karbon monoksida tanpa menyadari bahwa dirinya sedang terpapar. Risiko ini perlu mendapat perhatian, terutama di area tertutup atau lokasi dengan sirkulasi udara yang buruk dan terdapat sumber pembakaran.

Agus kembali menegaskan bahwa bahaya utama karbon monoksida berkaitan dengan kemampuannya menyebabkan kekurangan oksigen pada tubuh.

"Karbon monoksida bersifat asfiksian. Artinya gas ini dapat menyebabkan seseorang mengalami asfiksia atau kekurangan oksigen," kata Agus.

Karena itu, pemahaman mengenai sumber dan karakteristik karbon monoksida menjadi penting agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai aktivitas yang menghasilkan karbon monoksida. Penggunaan kendaraan bermotor, kebiasaan merokok, pembakaran sampah, serta paparan asap kebakaran perlu menjadi perhatian dalam upaya menjaga kualitas udara.

Aktivitas pembakaran, khususnya di ruang tertutup, perlu dihindari karena gas berbahaya dapat terakumulasi tanpa mudah disadari. Ventilasi yang memadai dan penggunaan alat pendeteksi karbon monoksida di lokasi yang berisiko juga dapat membantu mengurangi bahaya paparan.

Apabila dicurigai terjadi paparan karbon monoksida, segera tinggalkan area tersebut menuju udara segar dan cari pertolongan medis. Jangan kembali memasuki lokasi yang dicurigai terkontaminasi sebelum dinyatakan aman.

Pengenalan terhadap sumber karbon monoksida dan upaya mengurangi paparan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan masyarakat. Mengingat gas ini sulit dideteksi secara langsung, pencegahan dan kewaspadaan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan karbon monoksida. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid