Kabut Asap Karhutla Selimuti IKN, Istana Garuda hingga Masjid Negara Samar

Senin, 19 Oktober 2026 10:01 WIB
IKN diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (IDNVoice/Istimewa)
IKN diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (IDNVoice/Istimewa)

IDNVoice.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur mulai berdampak pada kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kabut asap dilaporkan menyelimuti kawasan pusat pemerintahan, termasuk Istana Garuda, hingga sejumlah bangunan ikonik terlihat samar dari kejauhan.

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengatakan aktivitas pemerintahan di IKN masih berlangsung normal di tengah kondisi tersebut. Meski demikian, dia mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kawasan IKN untuk menggunakan masker guna mengurangi risiko paparan kabut asap.

"Aktivitas masih berjalan normal, saya selalu memonitor untuk kondisi ini, khususnya penggunaan masker," tuturnya, dikutip dari CNN Indonesia pada Minggu, 18 Oktober 2026.

Kabut asap yang menyelimuti IKN membuat sejumlah bangunan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) tidak lagi terlihat jelas. Bangunan yang terdampak antara lain Istana Garuda, rumah susun (rusun) aparatur sipil negara (ASN), hingga gedung-gedung perkantoran.

Bahkan, Masjid Negara yang biasanya tampak megah dari kejauhan kini nyaris tertutup oleh pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan.

Basuki mengungkapkan, kabut asap paling terasa pada pagi hari. Meski begitu, kondisi terkini mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan hari sebelumnya.

"Paling terasa di pagi hari. Hari sebelumnya itu jauh lebih parah dari ini," tandasnya. 

Kondisi kabut asap tersebut turut berdampak pada kualitas udara di kawasan IKN. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) KLH/BPLH, kualitas udara di sekitar Plaza Bhinneka, KIPP IKN, berada dalam kategori tidak sehat.

Nilai ISPU untuk parameter PM2.5 tercatat mencapai 121 pada pukul 13.00 Wita, Kamis, 15 Oktober 2026. Basuki menyebut angka pencemaran udara bahkan sempat menyentuh level yang lebih tinggi.

"Bahkan sempat menyentuh di angka 150. Kita akan terus pantau menggunakan alat pemantau yang berada di kawasan taman Bhineka Tunggal Ika," kata Basuki.

Kondisi ini menjadi perhatian karena partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Penggunaan masker dan pemantauan kualitas udara menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan asap, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Di tengah kondisi tersebut, Otorita IKN terus berupaya membantu pemadaman karhutla di wilayah delineasi IKN. Penanganan dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Dhomber dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Kita terus mengupayakan proses pemadaman karhutla melalui kerja sama dengan Lanud Dhomber serta BMKG," ucapnya.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing atau penyiraman air dari udara ke titik-titik kebakaran. Selain itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) juga dilakukan untuk membantu menghasilkan hujan yang diharapkan dapat mendukung pemadaman api.

Namun, upaya modifikasi cuaca tersebut belum berjalan maksimal akibat terbatasnya awan hujan di wilayah IKN.

"OMC juga dilakukan untuk menghasilkan hujan yang dapat mendukung pemadaman api. Meskipun belum berjalan maksimal karena minimnya awan hujan di langit IKN," pungkasnya.

Upaya pemadaman dan pemantauan kualitas udara terus dilakukan untuk mengendalikan dampak karhutla. Sementara itu, masyarakat yang beraktivitas di kawasan IKN diimbau tetap waspada terhadap kabut asap dan mengikuti anjuran penggunaan masker. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid