Kabut Asap Beracun Kepung Asia Tenggara, ASEAN Aktifkan Status Siaga Tertinggi Level 3

Minggu, 18 Oktober 2026 21:11 WIB
Ilustrasi: Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 28 Agustus 2026. (IDNVoice/Getty Images)
Ilustrasi: Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 28 Agustus 2026. (IDNVoice/Getty Images)

IDNVoice.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda Indonesia memicu peningkatan ancaman kabut asap lintas negara di Asia Tenggara. Kondisi tersebut membuat Pusat Meteorologi Khusus ASEAN atau ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mengaktifkan status siaga Level 3 untuk kawasan ASEAN bagian selatan.

Informasi yang tercantum di situs resmi ASMC pada Sabtu (17 Oktober 2026) itu menjadi peringatan serius terhadap potensi memburuknya kualitas udara di kawasan regional akibat kebakaran yang terus berlangsung.

ASMC yang berbasis di dekat Bandara Changi, Singapura, menggunakan sistem peringatan empat tingkatan, mulai Level 0 hingga Level 3. Level 3 merupakan status tertinggi yang diterapkan ketika risiko terjadinya kabut asap lintas negara yang parah dinilai besar.

Penetapan status tersebut didasarkan pada sejumlah indikator, termasuk aktivitas titik panas kebakaran yang signifikan dan berkelanjutan serta penyebaran kabut asap berkategori sedang hingga pekat di wilayah yang luas selama setidaknya dua hari berturut-turut.

Kondisi cuaca kering berkepanjangan dan arah angin yang terus membawa asap menuju negara-negara ASEAN lainnya turut menjadi faktor penentu.

Peringatan tersebut diterbitkan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Sebelumnya, status serupa juga telah dikeluarkan dua kali sepanjang 2026, yakni pada 26 Agustus dan 27 Maret.

Kabut asap yang berlangsung selama berbulan-bulan telah mengganggu kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Dampaknya, sejumlah sekolah terpaksa ditutup, sementara keluhan gangguan pernapasan dilaporkan meningkat.

Situasi ini memperlihatkan dampak karhutla yang tidak hanya dirasakan wilayah tempat kebakaran terjadi, tetapi juga negara-negara tetangga yang terdampak kiriman asap lintas batas.

Dilansir AFP, pemerintah Singapura pada Jumat juga mengumumkan rencana mengirimkan peringatan kepada tujuh perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut diidentifikasi memiliki keterkaitan dengan kebakaran yang memicu kabut asap.

Langkah tersebut menjadi bagian dari perhatian Singapura terhadap sumber kebakaran yang berdampak pada kualitas udara di kawasan regional.

Meski demikian, pemerintah Singapura memperingatkan bahwa kondisi terburuk akibat kabut asap tersebut mungkin belum terjadi.

Peningkatan status siaga ASMC menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla dan kabut asap lintas negara masih perlu diwaspadai. Penanganan kebakaran, pemantauan kualitas udara, serta upaya pencegahan di wilayah rawan menjadi penting untuk menekan dampak terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan di Asia Tenggara. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid