IDNVoice.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 283.270 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla berdasarkan data kumulatif hingga 13 Oktober 2026.
Dari total kasus tersebut, sebanyak 63.711 kasus dialami anak berusia 0–5 tahun. Tingginya jumlah kasus pada kelompok usia dini ini menjadi perhatian serius karena bayi dan balita lebih rentan terhadap dampak buruk paparan asap kebakaran.
Kasus ISPA tersebut tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla. Kalimantan Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 74.636 kasus, disusul Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat masih membutuhkan penanganan serius, terutama di wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan secara berulang.
Asap karhutla mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu kesehatan. Paparan asap dapat memicu batuk, iritasi saluran pernapasan, serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru lainnya.
Anak-anak, khususnya bayi dan balita, menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan ekstra karena sistem pernapasannya masih berkembang. Paparan asap dalam kondisi kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini.
Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, Kemenkes terus memantau perkembangan ISPA di wilayah terdampak. Pemantauan ini penting untuk mendeteksi kenaikan kasus lebih awal sekaligus memperkuat respons kesehatan, termasuk memastikan kesiapan fasilitas pelayanan medis.
Koordinasi dengan pemerintah daerah juga diperlukan agar masyarakat yang terdampak kabut asap dapat memperoleh penanganan kesehatan yang sesuai. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kesehatan akibat karhutla, terutama bagi kelompok rentan.
Di sisi lain, masyarakat diimbau mengurangi risiko paparan asap dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan masker yang sesuai, menutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke dalam rumah, serta memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi.
Apabila mengalami sesak napas atau gejala yang semakin parah, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis. Perhatian khusus harus diberikan jika gejala tersebut dialami anak-anak, terutama bayi dan balita.
Angka 283.270 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.
Perlindungan terhadap kelompok rentan, pemantauan kasus ISPA, dan kesiapan layanan kesehatan perlu berjalan beriringan dengan upaya pencegahan serta penanggulangan karhutla. Dengan demikian, dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan. [DR]