Feby Indirani Buka Suara soal Bukan Perawan Maria dan Memburu Muhammad

Senin, 28 September 2026 18:41 WIB
 Penulis Buku Memburu Muhammad, Feby Indirani (IDNVoice/Istimewa)
Penulis Buku Memburu Muhammad, Feby Indirani (IDNVoice/Istimewa)

IDNVoice.com - Penulis Feby Indirani buka suara terkait dua karya fiksinya, Bukan Perawan Maria (BPM) dan Memburu Muhammad (MM), yang belakangan dipersoalkan sejumlah pihak hingga tengah didalami kepolisian.

Feby menegaskan kedua karya tersebut lahir dari niat baik dan berangkat dari pengalaman serta pengamatannya terhadap kehidupan umat Muslim di Indonesia.

“Saya lahir dan tumbuh sebagai seorang muslim. Perjalanan kepenulisan saya berakar kuat pada tradisi, kekayaan khazanah, serta keragaman tafsir dalam dunia Islam. Sejak kecil saya terbiasa membaca dan mendengar kisah-kisah hikmah yang memotret dunia, manusia, dan kebenaran secara arif, reflektif, penuh humor, serta tidak pernah hitam-putih,” kata Feby dikutip dari detik pada Senin, 28 September 2026.

Menurut dia, latar belakang tersebut turut membentuk karya-karya yang ditulisnya. Feby mengatakan cerita dalam kedua buku itu bersumber dari kehidupan sehari-hari umat Muslim dan menjadi upayanya menggambarkan kompleksitas dalam menjalankan kehidupan beragama.

"Semua cerita di dalam Bukan Perawan Maria (BPM) dan Memburu Muhammad (MM) bersumber dari pengalaman serta pengamatan atas kehidupan sehari-hari umat Muslim di Indonesia. Kedua buku tersebut merupakan ikhtiar untuk mencerminkan warna, dinamika, serta kompleksitas laku beragama kita sehari-hari," ucap dia.

Jelaskan Konteks Memburu Muhammad

Feby kemudian menjelaskan konteks cerpen Memburu Muhammad. Ia mengatakan cerita tersebut menggunakan sudut pandang tokoh fiktif Abu Jahal, sosok yang dikenal sebagai salah satu penentang utama Nabi Muhammad SAW.

“Sebagai contoh, dalam cerpen Memburu Muhammad-sebagaimana cerita-cerita lainnya di kedua buku tersebut-saya menggunakan sudut pandang tokoh fiktif, yakni Abu Jahal, musuh utama Nabi Muhammad SAW. Sebagai musuh, ia tentu enggan mengakui kenabian Rasulullah, tetapi diam-diam tidak kuasa menyangkal keagungan pribadi beliau. Salah satu ukuran tertinggi kemuliaan seseorang adalah ketika musuhnya sekalipun mengakui kehebatannya. Dalam cerita tersebut, Abu Jahal heran melihat begitu banyak orang menyandang nama Muhammad, namun tidak meneladani akhlaknya,” jelas dia.

Ia menegaskan istilah “memburu” dalam judul tidak dimaksudkan sebagaimana pemaknaan yang dapat muncul jika judul dibaca secara terpisah dari isi cerita.

“Apa yang sesungguhnya ‘diburu’ dalam konteks ini adalah sifat-sifat mulia sang Nabi-selaras dengan makna kata ‘memburu’ dalam KBBI, yakni berusaha keras untuk mendapatkan atau meraih sesuatu,” lanjutnya.

Feby juga menyebut Memburu Muhammad ditempatkan dalam koridor sastra dakwah dan telah menjadi bahan pembahasan di sejumlah forum akademik.

“Secara akademis, kajian terhadap buku ini bahkan menempatkannya dalam koridor sastra dakwah (seperti yang dicatat dalam riset jurnal ilmiah STID Al-Hadid). Karya-karya ini juga telah dibahas di berbagai forum perguruan tinggi, termasuk di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jejak perjalanan kedua buku ini sudah panjang dan telah dibaca secara wajar oleh ribuan umat Muslim,” tutur dia.

Terbit Sejak 2017 dan 2020

Feby menyebut Bukan Perawan Maria pertama kali diterbitkan pada 2017. Saat peluncurannya, Menteri Agama RI kala itu, Lukman Hakim Saifuddin, disebut hadir memberikan pidato kebudayaan.

Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan diterbitkan di Italia pada 2019. Di Indonesia, karya itu diterbitkan ulang oleh Bentang Pustaka yang merupakan bagian dari Mizan Group.

Sementara itu, Memburu Muhammad terbit pada 2020 dengan kata pengantar dari Gus Nadirsyah Hosen. Saat peluncuran daring pada masa pandemi COVID-19, buku tersebut dibahas oleh Gus Ulil Abshar Abdalla, yang saat itu disebut sebagai Ketua PBNU.

Feby menegaskan dirinya menulis dari perspektif masyarakat Muslim dan memandang karya sastra sebagai ruang untuk berefleksi dan berdialog.

“Saya menulis dari dalam diri masyarakat Muslim sendiri. Karya-karya ini lahir dengan niat baik, sebuah ikhtiar kreatif mengajak kita merenung, berdialog, dan memeriksa diri sendiri. Menghakimi karya sastra hanya dari judul atau potongan teks di media sosial yang dibingkai sedemikian rupa secara tidak berimbang, justru menjauhkan misi sastra sebagai bagian dari pendidikan dan kemaslahatan umat,” pungkasnya.

Ia juga menekankan bahwa karya fiksi perlu dibaca dengan memperhatikan perangkat sastra yang digunakan penulis, termasuk sudut pandang tokoh, simbol, dan kiasan.

“Sebagai karya sastra, fiksi bekerja melalui perangkat-perangkat sastrawi: ia bertumpu pada sudut pandang tokoh fiktif, simbol, dan kiasan. Teks sastra tidak dapat dinilai dengan cara membaca judul berita atau artikel opini,” imbuh dia. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid