Muktamar NU ke-35, Wasekjen PBNU Ajak Nahdliyin Jaga Persatuan dan Akhlak

Selasa, 25 Agustus 2026 12:20 WIB
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Ma`shum Faqih. (IDNVoice/PBNU)
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Ma`shum Faqih. (IDNVoice/PBNU)

IDNVoice.com - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Ma`shum Faqih mengajak seluruh elemen NU atau Nahdliyin untuk menjaga persatuan, ketenangan, serta menjunjung tinggi adab dan akhlakul karimah.

Gus Ma`shum, sapaan akrab K.H. Ma’shum Faqih, menegaskan Muktamar NU semestinya menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan konsolidasi jam’iyah. Ia mengingatkan agar dinamika menjelang forum tertinggi NU tersebut tidak berubah menjadi arena saling menjatuhkan melalui pembentukan opini, fitnah, maupun narasi yang menimbulkan keresahan.

"Jangan membuat warga NU resah dengan membangun opini yang menjatuhkan, menyebarkan fitnah, apalagi menggunakan cara-cara yang tidak beradab. Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal yang biasa, tetapi adab dan akhlak tidak boleh ditinggalkan," katanya dalam keterangannya pada Senin, 24 Agustus 2026.

Anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, itu mengingatkan bahwa NU merupakan jam’iyah diniyah ijtima`iyah yang dibangun para ulama dan kiai dengan landasan khidmah. Karena itu, menurut dia, orientasi utama dalam ber-NU semestinya bukan perebutan kekuasaan, posisi, maupun kepentingan politik.

"Kita ini tidak sedang berebut posisi atau jabatan politis. Kita sedang berkhidmah untuk umat. Kalau niat kita benar-benar khidmah, maka tidak perlu saling menjatuhkan, apalagi mengorbankan persaudaraan hanya karena berbeda pilihan atau pandangan," ujarnya.

Dinamika Muktamar Harus Tetap dalam Koridor Musyawarah

Gus Ma`shum menilai dinamika menjelang Muktamar merupakan hal yang wajar dalam organisasi sebesar NU. Perbedaan gagasan, pilihan, maupun pandangan mengenai masa depan organisasi harus ditempatkan dalam koridor musyawarah dan tradisi pesantren yang mengedepankan penghormatan kepada sesama.

Ia secara khusus meminta seluruh pihak menahan diri dalam menggunakan media sosial. Media sosial, kata dia, jangan dijadikan ruang untuk menyerang kehormatan pribadi, menyebarkan tuduhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, atau membangun persepsi negatif terhadap sesama kader dan pengurus NU.

"Silakan berbeda pendapat. Silakan mempunyai pilihan. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan adab. Jangan karena Muktamar, sesama warga NU kemudian saling mencaci, memfitnah dan menjatuhkan kehormatan satu sama lain," ucap Gus Ma`shum.

Menurutnya, jabatan di lingkungan NU bukan hadiah ataupun tujuan akhir perjuangan. Jabatan merupakan amanah sekaligus ruang pengabdian.

Siapa pun yang nantinya menerima amanah kepengurusan, lanjut dia, harus dipandang sebagai pihak yang memikul tanggung jawab besar untuk melayani jam`iyah, jamaah, pesantren, dan umat.

Muktamar Berakhir, Persaudaraan Harus Tetap Terjaga

Gus Ma`shum juga mengingatkan bahwa Muktamar pada akhirnya akan selesai. Kepengurusan dapat berganti, pilihan dapat berbeda, tetapi persaudaraan di antara warga NU harus tetap dipertahankan.

Karena itu, ia meminta seluruh pihak berpikir jauh melampaui kontestasi dan dinamika menjelang Muktamar. Menurutnya, kebesaran NU selama lebih dari satu abad tidak terlepas dari keteladanan para pendiri dan tetua yang mampu mengelola perbedaan dengan ilmu, kebijaksanaan, kesabaran, dan akhlak.

Ia pun mengajak seluruh jajaran NU bersama-sama menciptakan suasana yang teduh. Terlebih, dinamika internal NU menjadi perhatian masyarakat luas sehingga setiap kader memiliki tanggung jawab untuk menjaga marwah organisasi yang diwariskan para ulama.

"Mari kita jaga persatuan. Tetap beradab dan berakhlakul karimah. Jangan mudah terprovokasi, jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, dan jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan saudara sendiri," tutur Ma`shum Faqih. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid