Pasukan Israel Dilaporkan Membunuh Remaja Palestina karena Pelemparan Batu

Kamis, 21 Mei 2026 13:01 WIB
Dilaporakan anak di bawah umur Palestina terbunuh dengan rata-rata sekitar satu orang per minggu sejak eskalasi operasi militer di Tepi Barat. (Daily Times)
Dilaporakan anak di bawah umur Palestina terbunuh dengan rata-rata sekitar satu orang per minggu sejak eskalasi operasi militer di Tepi Barat. (Daily Times)

IDNVoice.com - Pembunuhan remaja Palestina di Tepi Barat oleh pasukan Israel kembali memicu kekhawatiran, dengan laporan yang menunjukkan bahwa anak di bawah umur terbunuh dengan rata-rata sekitar satu orang per minggu sejak eskalasi operasi militer di wilayah tersebut.

Menurut data yang dikutip oleh UNICEF, sedikitnya 70 remaja Palestina, sebagian besar berusia 15 hingga 16 tahun, telah tewas sejak Januari 2025 di seluruh Tepi Barat. Mayoritas dilaporkan ditembak oleh pasukan Israel. Angka tersebut menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ketika rata-rata korban anak di bawah umur mencapai sekitar satu orang setiap tiga minggu.

Salah satu korban, Youssef Shtayyeh yang berusia 15 tahun, tewas di kota Nablus setelah pulang sekolah. Menurut kesaksian saksi mata yang dikutip dalam laporan, ia ditembak di dekat rumahnya saat terjadi insiden yang melibatkan tentara Israel yang merespons aksi pelemparan batu oleh para pemuda.

Tenaga medis yang menangani remaja tersebut mengatakan bahwa ia mengalami luka tembak fatal yang masuk melalui punggung dan keluar melalui dada. Meskipun telah dilakukan upaya darurat, ia akhirnya meninggal di rumah sakit.

Dikutip dari Daily Times, Rabu (20/05/2026), militer Israel menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi setelah sejumlah orang diduga melempar batu ke arah tentara. Mereka menambahkan bahwa pasukan mengikuti “prosedur penangkapan standar” sebelum melepaskan tembakan. Militer Israel secara konsisten menggambarkan insiden seperti ini sebagai respons terhadap ancaman keamanan.

Petugas kesehatan di wilayah tersebut mengatakan mereka melihat perubahan dalam tingkat keparahan luka sejak meningkatnya kekerasan, dengan lebih banyak luka fatal di bagian dada dan kepala dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, keluarga para korban mempertanyakan penggunaan kekuatan mematikan dalam kasus seperti ini, dengan alasan bahwa pelemparan batu tidak membenarkan respon mematikan.

“Masalah ini menjadi perhatian internasional yang semakin besar seiring terus meningkatnya korban sipil,” tulis Daily Times.

Situasi di seluruh Tepi Barat tetap sangat tegang, dengan operasi militer yang terus berlangsung dan bentrokan yang sering terjadi antara pemuda Palestina dan pasukan Israel. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid