Ambisi Kota Masa Depan Putra Mahkota Arab Mulai Retak, Proyek Raksasa NEOM Ditunda hingga 2030

Senin, 01 Juni 2026 20:32 WIB
Pengunjung menyaksikan presentasi 3D dalam sebuah pameran tentang NEOM, kota bisnis dan industri baru, di Riyadh, Arab Saudi, pada 25 Oktober 2017. (Reuters)
Pengunjung menyaksikan presentasi 3D dalam sebuah pameran tentang NEOM, kota bisnis dan industri baru, di Riyadh, Arab Saudi, pada 25 Oktober 2017. (Reuters)

IDNVoice.com - Ambisi besar Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, untuk membangun kota futuristik di tengah gurun melalui proyek NEOM menghadapi tantangan serius. Sejumlah komponen utama proyek tersebut dilaporkan mengalami penundaan hingga setidaknya tahun 2030 akibat membengkaknya biaya pembangunan dan tekanan ekonomi yang dipicu berbagai faktor, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.

NEOM selama ini dipromosikan sebagai kota masa depan yang mengandalkan teknologi canggih, kecerdasan buatan, serta konsep pembangunan berkelanjutan dan netral karbon. Salah satu bagian paling ambisius dari proyek tersebut adalah The Line, kota pintar sepanjang 170 kilometer dengan bangunan setinggi 500 meter yang dirancang untuk menampung hingga sembilan juta penduduk.

Sebelumnya, laporan Semafor menyebutkan dokumen internal yang bocor menunjukkan proyeksi biaya pembangunan The Line dapat melonjak hingga USD8,8 triliun pada tahun 2080. Kini, laporan terbaru dari semafor.com⁠ mengungkap bahwa perusahaan milik negara yang mengelola NEOM telah menghentikan seluruh pekerjaan utama pada proyek tersebut hingga paling cepat tahun 2030.

"Keputusan tersebut merupakan hasil dari tinjauan strategis yang dilakukan oleh kepala eksekutif NEOM, Aiman al-Mudaifer, setelah pengangkatannya tahun lalu," dikutip dari laporan Semafor yang ditulis Matthew Martin.

Menurut laporan itu, dana kekayaan negara Arab Saudi mulai mengalihkan prioritas investasinya ke proyek-proyek yang dinilai lebih mendesak dan produktif secara ekonomi, seperti pengembangan pelabuhan dan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

Akibatnya, sejumlah proyek prestisius yang menjadi simbol visi Mohammed bin Salman harus mengalami pengurangan anggaran. Salah satu dampaknya terlihat pada pengurangan insentif senilai USD5 miliar untuk turnamen golf LIV yang digelar di Adelaide, Australia.

"NEOM juga telah mengurangi ambisi lebih lanjut tentang berapa banyak orang yang akan tinggal di NEOM pada tahun 2030. Targetnya sekarang hingga 100.000 orang," tambahnya.

Tak hanya itu, masa depan NEOM Stadium yang direncanakan menjadi salah satu venue utama 2034 FIFA World Cup juga kini belum jelas. Stadion berkapasitas 46.000 penonton tersebut merupakan bagian penting dari tahap awal pembangunan The Line.

Proyek lain yang terdampak adalah jalur kereta cepat NEOM Industrial City Connector (NICC) senilai USD1,6 miliar yang dirancang menghubungkan kawasan industri dengan The Line. Kontrak proyek tersebut dilaporkan telah dihentikan.

Sementara itu, pembangunan kawasan resor pegunungan Trojena juga mengalami hambatan. Proyek yang dirancang memiliki area salju buatan dan dijadwalkan menjadi tuan rumah 2029 Asian Winter Games itu disebut telah menghentikan sejumlah pekerjaan konstruksi.

Di tengah pengetatan anggaran, pemerintah Arab Saudi tetap memprioritaskan pengembangan Oxagon di pesisir Laut Merah dengan alokasi investasi sekitar USD3 miliar. Kawasan tersebut dinilai memiliki nilai strategis tinggi karena dapat menjadi alternatif jalur perdagangan ketika aktivitas pelabuhan di Teluk Persia terganggu akibat ketegangan geopolitik kawasan.

Meski pendapatan minyak Arab Saudi meningkat selama konflik regional berlangsung, tekanan terhadap sektor ekonomi lain tetap terasa. Gangguan rantai pasokan global serta meningkatnya biaya operasional membuat pemerintah harus melakukan penghematan dan meninjau kembali berbagai proyek berskala raksasa.

Analis ekonomi dari Bloomberg, Ziad Daoud, memperkirakan setiap bulan konflik berkepanjangan dapat menambah beban ekonomi Arab Saudi hingga sekitar 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Peninjauan ulang proyek NEOM disebut dilakukan setelah pengangkatan Aiman al-Mudaifer sebagai kepala eksekutif NEOM tahun lalu. Selain The Line, proyek gedung raksasa The Mukaab senilai sekitar USD50 miliar di Riyadh juga dilaporkan ditangguhkan sejak awal tahun.

"Bagi Arab Saudi, setiap bulan pertempuran menelan biaya sekitar 1,5 persen dari PDB dalam pengeluaran tambahan. Bagi sebagian besar negara tetangganya, tagihannya mungkin lebih tinggi," kata analis Bloomberg, Ziad Daoud, dalam analisis yang dikutip IDNVoice pada Senin, 1 Juni 2026.

Seiring evaluasi yang berlangsung, target jumlah penduduk NEOM pada 2030 kembali direvisi. Jika sebelumnya para pengembang membayangkan kawasan tersebut dihuni hingga 1,5 juta orang pada akhir dekade ini, kemudian diturunkan menjadi 300.000 orang, kini target terbaru hanya berkisar hingga 100.000 penduduk.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa visi besar transformasi ekonomi Arab Saudi melalui proyek-proyek megaproyek futuristik kini harus berhadapan dengan realitas biaya yang terus meningkat, perubahan prioritas investasi, serta ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid