Cadangan Beras Pemerintah Tembus 4,5 Juta Ton, Bapanas Optimistis Indonesia Hadapi El Nino Ekstrem

Senin, 19 Oktober 2026 13:30 WIB
Tumpukan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kemasan 10 kilogram tersimpan di gudang Perum Bulog. (IDNVoice/Bapanas)
Tumpukan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kemasan 10 kilogram tersimpan di gudang Perum Bulog. (IDNVoice/Bapanas)

IDNVoice.com – Pemerintah memastikan cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 4,5 juta ton sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman El Nino ekstrem dan potensi kekeringan. Persiapan yang dilakukan selama dua tahun terakhir ditujukan untuk menjaga ketersediaan pangan nasional di tengah risiko penurunan curah hujan.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan stok beras pemerintah saat ini berada pada tingkat yang dinilainya aman untuk menghadapi potensi dampak perubahan kondisi iklim.

“Insyaallah, kami sudah persiapkan dua tahun sebelumnya mengantisipasi El Nino Godzilla. Stok kita banyak, masih melimpah. Stok (cadangan beras pemerintah) kita 4,5 juta ton. Jadi aman,” kata Amran pada Senin, 19 Oktober 2026.

Menurut Amran, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi sejak jauh hari untuk menghadapi fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD), yang berpotensi memengaruhi curah hujan dan produksi pertanian. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat cadangan pangan pemerintah (CPP) agar ketersediaan bahan pangan tetap terjaga.

Berdasarkan catatan Bapanas, cadangan beras pemerintah saat ini mencapai 4,5 juta ton. Jumlah tersebut meningkat sekitar 200 persen dibandingkan posisi Oktober 2023, ketika stok CBP tercatat sebesar 1,51 juta ton.

Peningkatan cadangan ini disebut berasal sepenuhnya dari produksi beras dalam negeri. Dengan demikian, penguatan stok pemerintah dilakukan melalui penyerapan hasil produksi nasional.

Meski penyerapan gabah dan beras terus dilakukan pemerintah, Bapanas memastikan kebijakan tersebut tetap memperhatikan peran produsen serta penggilingan beras swasta. Pemerintah menegaskan penyerapan untuk cadangan negara tidak dimaksudkan untuk menyingkirkan pelaku usaha swasta dari pasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan proyeksi produksi beras nasional selama Januari hingga September 2026 dapat mencapai 28,39 juta ton.

Sementara itu, total penyerapan pemerintah dalam bentuk setara beras tercatat sekitar 4,1 juta ton atau 14,4 persen dari proyeksi produksi nasional tersebut. Dengan porsi penyerapan itu, sektor swasta masih memiliki ruang untuk menyerap hasil panen gabah petani.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara penguatan cadangan pangan pemerintah, penyerapan hasil panen petani, dan keberlangsungan aktivitas usaha swasta di sektor perberasan.

Dengan cadangan beras yang telah diperkuat dan produksi dalam negeri yang diproyeksikan mencapai puluhan juta ton, Amran menyatakan optimistis Indonesia dapat kembali mencapai swasembada pangan berkelanjutan pada 2026.

Ia juga berharap musim penghujan segera kembali melanda berbagai wilayah Indonesia sehingga mendukung kegiatan pertanian dan menjaga produktivitas tanaman pangan.

“Insyaallah di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo, Presiden kita yang kita cintai, (akan mencapai) swasembada berkelanjutan,” kata Amran.

Pemerintah menempatkan penguatan cadangan pangan sebagai salah satu langkah untuk mengantisipasi gangguan produksi akibat kondisi cuaca. Namun, perkembangan curah hujan, luas panen, dan produktivitas pertanian tetap menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan pangan sepanjang tahun.

Selain beras, pemerintah juga memperkuat cadangan sejumlah komoditas pangan lainnya untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan.

Bapanas memastikan cadangan pangan pemerintah tidak hanya mencakup beras. Sejumlah komoditas lain juga tersedia untuk mendukung kebutuhan pangan nasional.

Berikut rincian stok cadangan pangan pemerintah yang disampaikan Bapanas:

  1. Beras: 4,5 juta ton.
  2. Jagung pakan: 84 ribu ton.
  3. Minyak goreng: 26 ribu kiloliter, dikelola Perum Bulog dan ID Food.
  4. Daging ayam: 39 ton, dikelola ID Food.

Untuk komoditas yang mudah rusak atau membusuk (perishable), seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, pemerintah mengandalkan pasokan dari produksi dalam negeri secara reguler.

Bapanas menilai ketersediaan komoditas tersebut masih dapat ditopang oleh produksi nasional karena terdapat surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi selama tahun berjalan.

Pendekatan ini dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing komoditas. Berbeda dengan beras yang dapat disimpan sebagai cadangan dalam jangka relatif panjang dengan pengelolaan yang tepat, komoditas segar membutuhkan distribusi dan pengelolaan pasokan yang menyesuaikan kondisi produksi serta permintaan pasar.

Dengan penguatan cadangan beras dan komoditas pangan lainnya, pemerintah berharap kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah ancaman El Nino, potensi kekeringan, dan perubahan pola curah hujan.

Pemerintah juga perlu menjaga koordinasi dengan petani, pelaku usaha, dan pemerintah daerah agar ketersediaan pangan tetap terjaga, distribusi berjalan lancar, serta harga komoditas dapat dikendalikan ketika terjadi gangguan produksi. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid